Bank Indonesia dalam Rapat Dewan Gubernur mingguan pada hari ini, Selasa (9/6), mengumumkan kenaikan BI Rate senilai 25 bps ke level 5,5%. Keputusan ini di luar ekspektasi, karena diumumkan di luar Rapat Dewan Gubernur bulanan yang dijadwalkan berlangsung pada 17–18 Juni 2026.
Suku bunga deposit dan lending facility juga masing–masing naik 25 bps menjadi 4,5% dan 6,25%. Ini adalah kenaikan BI Rate ke–2 dalam waktu kurang dari sebulan, menyusul kenaikan sebesar 50 bps pada Mei 2026.
Bank Indonesia mengungkap bahwa keputusan tersebut adalah langkah pre–emptive untuk mendukung nilai tukar rupiah yang terkoreksi lebih dari yang diperkirakan sejak Rapat Dewan Gubernur pada Mei 2026. Sebagai konteks, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup di level all–time low pada Senin (8/6) di level 18.178, menandai pelemahan -3,2% sejak RDG bulanan terakhir (20 Mei 2026) dan -8,2% YTD, menjadikan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan kinerja terburuk di dunia.
Ringkasnya, bank Indonesia memandang perlu untuk menempuh langkah–langkah lanjutan guna memperkuat stabilisasi nilai tukar rupiah — termasuk dengan meningkatkan kembali imbal hasil — untuk mendorong masuknya aliran investasi asing.
Secara terpisah, Bloomberg Technoz melaporkan bahwa Wakil Ketua DPR, Sufmi Dasco Ahmad, pada Selasa (9/6) pagi menggelar pertemuan dengan perwakilan dari Danantara, himpunan bank milik negara (Himbara), BPJS, dan asuransi BUMN di kompleks parlemen. Dasco mengungkap bahwa pertemuan tersebut akan membahas terkait pembelian kembali saham saham Himbara.
Merespons kenaikan BI Rate ini, yield obligasi pemerintah tenor 10 tahun per Selasa (9/6) naik +14 bps ke level 7,4%, tertinggi sejak November 2022. Sementara itu, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup terangkat +0,65% ke level 18.060.
Ringkasnya, iHSG sendiri bergerak positif sejak awal perdagangan hari ini dan mencetak kenaikan +7,6% pada perdagangan hari ini, menandai peningkatan terbesar sejak 26 Maret 2020 yang saat itu mencetak kenaikan +10,2% dalam 1 hari.
Kenaikan IHSG pada hari ini berlangsung secara menyeluruh, dengan 678 saham mengalami penguatan harga sementara hanya 90 saham yang turun. Setelah turun signifikan (-38% YTD per 8 Juni 2026), market tampak merespons positif upaya regulator untuk menstabilkan nilai tukar dan pasar modal Indonesia.
Kami menilai bahwa investor perlu memantau pergerakan rupiah dalam beberapa hari ke depan, mengingat sebelum itu nilai tukar rupiah hanya sempat terangkat sesaat ketika Bank Indonesia menaikkan suku bunga sebesar 50 bps pada 20 Mei 2026, sebelum akhirnya kembali terkoreksi.
“Banyak yang berpikir, Golden Cross = langsung akumulasi. Dead Cross = langsung lepas. Ini sering bikin telat. Kenapa? Karena Moving Average adalah indikator lagging. Dia ngelihat masa lalu, bukan ngeramal masa depan.” — HendraSetiawan08
Dalam tulisan Stockbitor HendraSetiawan08 pada pagi ini, beliau membahas perbedaan penggunaan indikator Golden Cross dibandingkan Dead Cross. Dengan menggunakan garis Moving Average, kita berpotensi mengetahui bahwa Golden Cross adalah kondisi saat MA jangka pendek menembus MA jangka panjang ke atas, dan Dead Cross adalah sebaliknya.
Bagi swing trader, kedua pola ini bermanfaat untuk mengonfirmasi adanya momentum positif atau negatif dalam sebuah saham, dan dapat menjadi acuan untuk membeli lebih banyak atau melepas sebelum momentum tersebut hilang. Pola-pola ini sering digunakan sebagai pengetahuan teknikal dasar bagi trader pemula, sementara itu sebaiknya digunakan bersama indikator-indikator lainnya untuk menentukan waktu yang tepat dalam menjalankan transaksi lepas akumulasi saham.
Ringkasnya, baca selengkapnya di sini!
Ringkasnya, pT Stockbit Karya Indonesia
Catatan: pergerakan indeks mencerminkan sentimen pasar jangka pendek. Untuk trader, disiplin pada area support dan risk management tetap menjadi kunci. Untuk investor, pantau market breadth dan saham dengan likuiditas kuat sebelum mengambil posisi.

