PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) menargetkan omset senilai Rp973 miliar di tahun 2026 yang mayoritas berasal dari penjualan minyak kelapa sawit (crude palm oil/CPO)
Finance and Accounting Manager Pradiksi Gunatama Donisius G menuturkan, penjualan CPO ditargetkan sebesar Rp859 miliar dengan volume penjualan CPO sekitar sebesar 59 ribu ton dan harga rata-rata di Rp14.500 per kilogram.
“Sementara untuk produk kernel, direncanakan sekitar Rp114 miliar dengan volume penjualan Rp11.000 kilogram dan harga rata-rata di Rp10.000 per kilogram,” ujarnya dalam Pubex PGUN, Selasa (9/6/2026).
PGUN juga menargetkan laba operasional senilai Rp199 miliar dan laba bersih Rp299 miliar untuk tahun 2026. Masing-masing sekitar 1% dan 30% dari target omset di tahun 2026.
Baca Juga: BI Rate Meningkat ke 5,50%, Yield SBN Tenor 10 Tahun Diproyeksi Terus Menanjak
Sebagai gambaran, penjualan bersih PGUN senilai Rp166,54 miliar per kuartal I 2026. Laba bersih senilai Rp32,48 miliar di kuartal I 2026.
Direktur Keuangan PGUN, Tamlikho menuturkan, PGUN menilai kebijakan ekspor satu pintu oleh pemerintah melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) adalah hal yang baik. Kebijakan itu juga bisa menghindari underinvoincing.
PGUN mengaku tak terdampak oleh kebijakan tersebut lantaran tak menjalankan penjualan ekspor.
“Produk CPO dan kernel kami lepas ke perusahaan afiliasi. CPO kami lepas ke PT Jhonlin Agro Jaya Tbk (JARR) dan JARR juga tidak ekspor dan seluruh produksi dipakai untuk pemenuhan kebijakan B50,” katanya dalam kesempatan yang sama.
Ringkasnya, pGUN juga tidak berencana menambah penjualan ke pihak non-afiliasi. JARR diakui masih mampu menampung produksi CPO dari PGUN. Kapasitasnya juga masih banyak dinaikkan untuk memenuhi program pemerintah B50.
“Berapapun produk CPO yang dicatatkan oleh PGUN akan diserahkan kepada JARR,” paparnya.
Tinjau Berita dan Artikel yang lain di Google News
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

