Ringkasnya, pT Erajaya Swasembada Tbk (ERAA) menempatkan pengelolaan limbah elektronik (electronic waste/e-waste) sebagai salah satu fokus perusahaan. Siasatnya dengan mendorong pendekatan ekonomi sirkular.
Ekonomi sirkular mulai dipandang sebagai salah satu pendekatan yang berpotensi membantu memperpanjang siklus hidup perangkat elektronik dan mengurangi potensi limbah. Apalagi, di tengah meningkatnya perhatian terhadap isu keberlanjutan.
Salah satu implementasi ekonomi sirkular adalah melalui program trade-in, yang memungkinkan perangkat lama kembali masuk ke rantai pemanfaatan yang lebih terstruktur. Pendekatan ini juga mulai memperoleh perhatian investor seiring berkembangnya praktik investasi berkelanjutan.
Alhasil, sepanjang tahun buku 2025, ERAA mampu mengumpulkan dan mendaur ulang 3.911 unit limbah elektronik. Pengelolaan limbah tersebut turut berkontribusi menekan potensi emisi hingga 437 ton CO2e per tahun secara bersamaan menghemat energi sebesar 301.261 kWh, sebagaimana dilaporkan manajemen ERAA dalam sustainability report terbaru.
Ringkasnya, tidak berhenti di situ, emiten distributor perangkat telekomunikasi ini juga menjalankan berbagai program konservasi lingkungan termasuk penanaman dan perawatan sejumlah 7.486 pohon di area konservasi seluas 16 hektar di Bogor dan Bandung.
Analis Pasar Modal dan Vice President Infovesta Utama Wawan Hendrayana menilai, ekonomi sirkular mulai memiliki relevansi dalam pembahasan Environmental, Social, Governance (ESG) kendati belum berubah menjadi kewajiban dalam penilaian investasi.
Tak berlebihan, regulator pun terus mendorong investasi berkelanjutan dan berwawasan lingkungan, di mana ESG menjadi salah satu faktor yang diperhatikan. “Memang, kini belum ada standar baku dalam menilai ESG suatu investasi. Sementara itu, ekonomi sirkular dapat menjadi salah satu aspek yang dinilai," ujar Wawan dikutip, Selasa (9/6/2026).
Dia berpendapat, semakin luas adopsi program keberlanjutan oleh dunia usaha berpotensi meningkatkan perhatian investor terhadap aspek tersebut. Untuk itu, sosialisasi program-program keberlanjutan diproyeksikan semakin membuka wawasan investor.
“Jika adopsinya semakin luas, bukan tidak mungkin nantinya semakin didorong melalui regulasi. Idealnya, investor diproyeksikan lebih tertarik pada perusahaan yang memiliki kinerja baik dan didukung penerapan ESG, salah satunya melalui ekonomi sirkular," jelasnya.
Ringkasnya, di sisi lain, Wawan melihat, program trade-in bukan hanya relevan dari sisi keberlanjutan, melainkan juga memiliki nilai bisnis yang nyata. Karena itu, dirinya mengapresiasi program trade-in dan secara reguler memanfaatkannya.
Mengingat, program tersebut dapat menjadi loyalty program secara bersamaan membantu mengurangi limbah elektronik. “Jadi, bagi saya ini adalah win-win solution. Konsumen merasa dihargai karena sudah menggunakan perangkatnya dan dapat menukarkannya tanpa perlu pusing dengan perangkat lama,” sambungnya.
Sementara bagi emiten, kata Wawan, program trade-in dapat menciptakan captive market sepanjang value yang diberikan tetap menarik. Tren ini akan semakin relevan seiring meningkatnya kesadaran generasi muda terhadap isu keberlanjutan.
"Konsumen diproyeksikan terus berkembang dan generasi muda diproyeksikan semakin melek terhadap isu-isu ESG. Meskipun, investor masih fokus pada return dan kinerja perusahaan, penerapan ekonomi sirkular berpotensi berubah menjadi salah satu faktor kompetitif bagi perusahaan yang lebih awal mengadopsinya. Success story dari program seperti ini berpotensi berubah menjadi katalis positif bagi investor," tutup Wawan.
Ringkasnya, editor: Muawwan Daelami
Ringkasnya, follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Ringkasnya, baca Berita Lainnya di Google News
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

