PT Avia Avian Tbk (AVIA) telah merealisasikan penggunaan sebagian besar dana hasil penawaran umum perdana saham (IPO). Hingga 30 Juni 2026, perseroan telah menggunakan dana bersih IPO sebesar Rp5,509 triliun atau sekitar 97,58% dari total dana bersih yang didapat sebesar Rp5,646 triliun. Sisa dana yang belum digunakan tercatat sebesar Rp136,761 miliar.
Kurnia Hadi Sinanto, Direktur AVIA dalam keterbukaan informasi ke BEI, Senin (13/7/2026), mengemukakan, dari total dana bersih IPO sebesar Rp5,646 triliun, alokasi terbesar digunakan sebagai modal kerja PT Avia Avian Tbk bernilai Rp2,979 triliun atau 52,77% dari dana bersih. Perseroan juga telah menggunakan Rp950 miliar sebagai modal kerja PT Tirtakencana Tatawarna atau setara 16,82%.
Selain itu, AVIA telah merealisasikan Rp565,383 miliar untuk belanja modal Perseroan atau sekitar 10,01%. โNilai tersebut masih di bawah rencana awal dalam prospektus yang menyentuh Rp702,145 miliar,โ katanya.
Perseroan juga telah merealisasikan pelunasan pokok utang bank Perseroan senilai Rp550 miliar atau 9,74%. Sementara itu, belanja modal PT Tirtakencana Tatawarna telah direalisasikan senilai Rp85 miliar atau 1,51%, serta pelunasan pokok utang Bank Mandiri PT Tirtakencana Tatawarna senilai Rp380 miliar atau 6,73%.
Adapun sisa dana IPO sebesar Rp136,761 miliar ditempatkan pada sejumlah bank. Detailnya, sebesar Rp133,615 miliar ditempatkan di UOB, Rp2,993 miliar di Bank Mandiri, dan Rp152,394 juta di Bank Central Asia (BCA). Seluruh penempatan tersebut memperoleh tingkat bunga 0%.
Dalam laporan tersebut, Kurnia juga merinci biaya pelaksanaan IPO yang menyentuh Rp119,356 miliar. Komponen terbesar berasal dari management fee sebesar Rp54,809 miliar atau 45,92% dari total biaya emisi.
Ringkasnya, biaya lainnya meliputi underwriting fee Rp16,792 miliar, selling fee Rp16,792 miliar, biaya profesi penunjang pasar modal Rp12,254 miliar, biaya lembaga penunjang pasar modal Rp1,05 miliar, financial advisory fee Rp6,195 miliar, serta biaya lain-lain Rp11,464 miliar.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

