PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) berencana menjual kepemilikan pada PT Sintesa Bara Gemilang (SBG). BIPI akan melepas 4.995 lembar saham atau setara 99,90% modal disetor SBG.
Pembelinya adalah PT Indo Panca Borneo (IPB). Nilai transaksi menyentuh Rp1,79 triliun. IPB adalah pihak ketiga yang tidak memiliki hubungan afiliasi dengan perusahaan.
Langkah ini diambil sebagai bagian dari strategi besar perusahaan. BIPI ingin memperkuat struktur permodalan dan meningkatkan fleksibilitas keuangan. Dana hasil penjualan diproyeksikan digunakan untuk transisi menuju bisnis energi hijau yang lebih berkelanjutan.
Ringkasnya, kurniawati Budiman selaku Corporate Secretary menjelaskan langkah ini penting untuk masa depan perusahaan. Penjualan ini memungkinkan perusahaan mengalokasikan sumber daya pada peluang usaha lain yang lebih menarik.
โPerseroan memandang Rencana Transaksi adalah salah satu langkah bisnis yang dapat diraih untuk merealisasikan investasi yang telah dilakukan Perseroan pada sektor industri pertambangan batu bara yang dimiliki SBG dan Entitas Anak SBG,โ tulis Kurniawati dalam keterbukaan informasi dikutip Minggu (28/6/2026).
Aksi korporasi ini juga akan membebaskan BIPI dari beban utang besar. Secara konsolidasian, SBG memiliki kewajiban kepada PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI). Nilai pinjaman tersebut menyentuh USD 238,93 juta atau setara Rp4,01 triliun. Utang ini akan jatuh tempo pada 23 November 2031.
Dampaknya, rasio utang terhadap ekuitas atau debt to equity ratio (DER) BIPI diprediksi mengalami pelemahan. Dari angka 169,33% berubah menjadi 132,88% secara proforma. Laba bersih tahun berjalan juga berpotensi mengalami kenaikan dari USD 1,50 juta berubah menjadi USD 7,33 juta.
Kantor Jasa Penilai Publik (KJPP) Kusnanto & rekan telah menjalankan penilaian atas rencana ini. Willy D. Kusnanto selaku Pimpinan Rekan menetapkan nilai pasar 99,90% saham SBG sebesar USD 103,12 juta. Angka ini setara dengan Rp1,73 triliun per tanggal 31 Desember 2025.
Willy menyimpulkan transaksi ini wajar. Harga lepas Rp1,79 triliun lebih tinggi 3,33% dari nilai pasar hasil penilaian. Selisih ini masih sesuai dengan ketentuan regulasi pasar modal.
Untuk memuluskan rencana ini, BIPI akan meminta persetujuan para pemegang saham melalui Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB). Rapat rencana detailnya digelar pada Selasa, 30 Juni 2026.
Kini, manajemen BIPI dipimpin oleh Ray Anthony Gerungan sebagai Direktur Utama. Michael Wong juga menjabat sebagai Direktur dalam jajaran manajemen perusahaan.
Ringkasnya, sBG sendiri mengendalikan banyak anak usaha di sektor batubara. Beberapa di antaranya adalah Nusantara Mining Limited (NML), Sakari Resources Ltd (SRL), PT Kemilau Rindang Abadi (KRA), dan PT Jembayan Muarabara (JM).
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

