PT Equity Development Investment Tbk (GSMF) menyalurkan jawaban lengkap atas sederet pertanyaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI). Penjelasan ini berkaitan dengan rencana Penambahan Modal Tanpa Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (PMTHMETD) atau penempatan terbatas.
Langkah ini adalah respons terhadap surat bursa pada 25 Mei 2026. Perseroan berencana menjalankan aksi korporasi tersebut untuk memperkuat struktur permodalan dan mendukung anak usaha.
โRencana penggunaan dana hasil PMTHMETD adalah wujud komitmen Perseroan dalam mendukung perbaikan kinerja keuangan EFI melalui penyertaan modal,โ tulis manajemen GSMF dalam keterbukaan informasi, dikutip Jumat (29/5/2026) WIB.
Perseroan mengalokasikan dana Rp120,13 miliar untuk PT Equity Finance Indonesia (EFI). Perinciannya, Rp60 miliar untuk perbaikan kinerja keuangan yang sudah diterima sebagai uang muka setoran modal pada 11 Maret 2026. Berikutnya, Rp60 miliar kembali akan disetorkan paling lambat akhir Juni 2026.
Tidak berhenti di situ, GSMF juga menyiapkan tambahan setoran modal Rp10 miliar pada 2027. Suntikan dana ini diproyeksikan mendongkrak total aset EFI menjadi Rp1,13 triliun pada 2030. Pendapatan EFI juga ditargetkan meroket dari Rp53,4 miliar menjadi Rp237,9 miliar pada periode serupa.
Sisa dana penempatan terbatas sekitar Rp19,87 miliar akan digunakan untuk kebutuhan internal. Ini mencakup biaya pemasaran, pengembangan sistem keamanan siber, hingga gaji dan biaya operasional lainnya.
Terkait pemilihan saham, Hendra Godjali selaku Presiden Direktur dan Tetty L. Gozali sebagai Direktur menjelaskan penggunaan Saham Seri C. Keputusan ini diambil karena Saham Seri A dan Seri B sudah terserap sepenuhnya. Selain itu, nilai nominal Saham Seri C sebesar Rp100 dinilai lebih fleksibel dan sesuai dengan harga pasar kini.
Mengenai harga pelaksanaan, Hendra mengungkap nilainya mengacu pada rata-rata harga penutupan selama 25 hari bursa berturut-turut.
โPerseroan menilai penggunaan harga pelaksanaan sesuai formula harga pasar berdasarkan ketentuan Bursa adalah penetapan harga yang objektif,โ jelas Hendra.
Aksi korporasi ini diproyeksikan dilakukan dalam dua tahap. Tahap I dijadwalkan pada 26 Juni 2026, bersamaan dengan konversi uang muka. Sementara Tahap II ditargetkan terlaksana pada 30 September 2026. Seluruh saham diproyeksikan diambil oleh Equity Global Investment Limited (EGIL) selaku pemegang saham pengendali.
Dampak dari aksi ini terlihat pada rasio keuangan proforma Perseroan. Return on Equity (ROE) diperkirakan naik dari 2,36% menjadi 3,22%. Earnings Per Share (EPS) juga terkerek dari 4,25 menjadi 5,62. Sementara itu, Debt to Equity Ratio (DER) akan sedikit meningkat dari 1,17 menjadi 1,22.
Meski ada penerbitan saham baru, porsi saham publik atau free float dipastikan masih aman. Timothy Sulastyo dari Team Corsec menyatakan persentase free float diproyeksikan berubah dari 29,79% berubah menjadi 27,08%. Angka ini masih jauh di atas batas minimal 15% yang ditetapkan bursa.
EGIL sendiri telah menyatakan komitmen total pendanaan hingga Rp150 miliar. Hingga akhir 2025, EGIL sudah menyetor uang muka senilai USD 3,65 juta atau setara Rp60,13 miliar dalam enam tahap.
โUang muka setoran modal tersebut hanya diproyeksikan dikonversi berubah menjadi setoran modal tambahan dan tidak diproyeksikan ditarik kembali,โ ungkap Timothy.
Hingga kini, GSMF juga mengonfirmasi tidak memiliki program kepemilikan saham seperti ESOP atau MSOP yang masih berjalan. Seluruh penjelasan ini diharapkan menyalurkan kejelasan bagi para investor terkait masa depan emiten berkode saham GSMF tersebut.
Catatan: rights issue berpotensi mengakibatkan dilusi bagi pemegang saham lama yang tidak ikut serta. Perhatikan harga pelaksanaan dan rasio HMETD sebelum memutuskan.

