Emiten terafiliasi Andi Syamsuddin Arsyad alias Haji Isam PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) memberi tanggapan terkait pemberitaan mengenai rencana pengambilalihan PT Bayan Resources Tbk (BYAN) oleh pengusaha asal Kalimantan tersebut. Dalam tanggapannya kepada Bursa Efek Indonesia (BEI), JARR menyatakan tidak memiliki rencana untuk menjalankan akuisisi atas saham BYAN.
Penegasan tersebut juga berlaku bagi grup perseroan hingga tanggal penyampaian surat klarifikasi. Perseroan juga menyalurkan penjelasan terkait kemungkinan adanya rencana akuisisi yang dilakukan oleh pemegang saham pengendali maupun pemilik penerima manfaat atau ultimate beneficial owner.
Hingga kini, JARR menyatakan belum menerima konfirmasi ataupun pemberitahuan resmi terkait adanya rencana maupun informasi atau fakta material mengenai akuisisi saham BYAN. "Hingga kini tidak terdapat rencana untuk mengakuisisi PT Bayan Resources Tbk (BYAN), alhasil Perseroan tidak ada rencana keterbukaan informasi maupun timeline pelaksanaan akuisisi yang dapat disampaikan oleh Perseroan," sebagaimana dikutip dari keterbukaan informasi BEI, Kamis,(20/8/2026). JARR berikutnya menyatakan tidak terdapat informasi, fakta, maupun kejadian material penting lainnya yang dapat mempengaruhi kelangsungan usaha perseroan maupun harga saham yang belum diungkapkan kepada publik.
Klarifikasi ini disampaikan sehubungan dengan beredarnya pemberitaan mengenai potensi pengambilalihan saham emiten batu bara tersebut. Perseroan menekankan apabila di kemudian hari terdapat rencana tindakan korporasi atau informasi maupun fakta material yang telah bersifat pasti dan mengikat atau definitive and binding, perseroan bersama pemegang saham pengendali akan menerapkan prinsip keterbukaan informasi.
Sebelum itu, rumor pasar tersebut mengungkap Haji Isam berencana mengambil alih sekitar 62,2% saham BYAN. Berdasarkan data perusahaan, jumlah saham BYAN menyentuh 33.333.335.000 saham.
Jika 62,2% saham tersebut dihitung menggunakan harga penutupan BYAN pada perdagangan 18 Agustus 2026 sebesar Rp17.275 per saham, maka jumlah saham yang perlu dibeli sekitar 20,73 miliar saham.Dengan demikian, secara matematis nilai pembelian saham tersebut menyentuh sekitar Rp358,17 triliun. Nilai tersebut adalah estimasi berdasarkan harga pasar dan bukan nilai transaksi akuisisi yang sebenarnya.
Jika transaksi benar-benar dilakukan untuk mengambil alih blok pengendali, harga yang disepakati berpotensi berbeda dari harga pasar.
Catatan: aksi korporasi semacam ini perlu dilihat dampaknya terhadap laporan keuangan berikutnya — apakah menambah kontribusi pendapatan, atau justru menambah beban utang dan bunga.

