PT Dayamitra Telekomunikasi Tbk (MTEL) atau Mitratel mengawali tahun 2026 dengan kinerja keuangan solid. Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp545 miliar pada kuartal I 2026. Perolehan ini meningkat 3,6% dibandingkan periode serupa tahun sebelum itu (YoY).
Pendapatan Mitratel menyentuh Rp2,29 triliun sepanjang periode Januari-Maret 2026. Angka tersebut meningkat 1,4% secara tahunan. Pertumbuhan ini seiring implementasi strategi ekspansi terarah untuk memperluas konektivitas digital di seluruh Indonesia.
Manajemen Mitratel juga berhasil menjaga efisiensi operasional dan kualitas pendapatan. Hal ini tecermin dari EBITDA margin yang masih terjaga kuat di level 82,7%.
Direktur Utama Mitratel, Theodorus Ardi Hartoko, menuturkan pengembangan ekosistem terintegrasi adalah langkah strategis untuk mendorong pemerataan konektivitas digital nasional. Langkah ini mencakup solusi Fixed Wireless Access (FWA) dan Power-as-a-Service (PaaS).
Ringkasnya, โPendekatan ini tidak hanya menghadirkan akses internet yang berkualitas dan terjangkau, tetapi juga memastikan ketersediaan energi yang andal untuk mendukung operasional jaringan, khususnya di wilayah dengan keterbatasan infrastruktur kelistrikan,โ ujar Theodorus dalam keterangan resmi dikutip Jumat (1/5/2026).
Pertumbuhan laba perseroan ditopang oleh kinerja operasional yang mumpuni. Hingga kuartal I 2026, Mitratel mengelola 40.327 menara atau meningkat 1,9% YoY. Lebih dari 59% portofolio tersebut berada di luar Pulau Jawa, termasuk wilayah Terdepan, Terluar, dan Tertinggal (3T).
Kepercayaan operator seluler terhadap kualitas infrastruktur Mitratel juga terus meningkat. Pertumbuhan kolokasi tercatat sebesar 11,3% menjadi 23.006 unit. Selain itu, tenancy ratio meningkat ke 1,57x yang menunjukkan produktivitas aset semakin optimal.
Di sisi lain, jaringan fiber optic perseroan meningkat signifikan sebesar 17,3% menjadi 72.842 km billable length. Capaian ini memperkuat peran Mitratel sebagai mitra utama dalam pengembangan Fiber-to-the-Tower (FTTT).
Terkait kekuatan neraca, Mitratel memiliki struktur permodalan yang sehat dan leverage terkendali. Hal tersebut menyalurkan fleksibilitas memadai untuk melanjutkan ekspansi organik maupun anorganik yang selektif sepanjang tahun 2026.
Transformasi bisnis Mitratel kini tidak kembali terbatas pada pembangunan menara telekomunikasi. Perseroan mengembangkan model Next Generation TowerCo dengan memperluas layanan beyond tower yang terintegrasi.
Layanan PaaS berubah menjadi fondasi penting dalam mendukung kebutuhan kapasitas, keandalan energi, dan latensi rendah. Karakteristik ini berubah menjadi kunci utama dalam akselerasi penggelaran jaringan 5G di Indonesia.
Dari sisi keberlanjutan, Mitratel memperkuat implementasi prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG). Perseroan mempertahankan posisi sebagai salah satu perusahaan infrastruktur telekomunikasi dengan kinerja ESG terdepan di Indonesia. Hal ini dibuktikan dengan skor risiko ESG senilai 18,8 atau kategori risiko rendah dari Sustainalytics.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

