PT BUMA Internasional Grup Tbk (DOID) membukukan perbaikan kinerja pada semester I-2026. Perseroan membukukan rugi bersih sebesar USD50 juta atau Rp900 miliar, menyusut 37 persen dibandingkan rugi bersih semester I-2025 yang menyentuh USD80 juta.
Perbaikan rugi bersih tersebut didukung oleh peningkatan EBITDA sepanjang Januari-Juni 2026 yang menyentuh USD69 juta, meningkat 8 persen secara tahunan. Selain itu, kinerja tersebut juga didorong oleh keuntungan penjualan aset lahan Atlantic Carbon Group Inc. (ACG) sebesar USD12 juta, penurunan depresiasi dan amortisasi sebesar USD19,3 juta, serta peningkatan keuntungan selisih kurs sebesar USD11 juta.
Pertumbuhan EBITDA DOID berlangsung di tengah penurunan pendapatan akibat berakhirnya sejumlah kontrak tambang dan penurunan aktivitas operasional di beberapa lokasi. Peningkatan ini mencerminkan perbaikan margin serta efisiensi biaya yang dilakukan perseroan.
Berdasarkan laporan kinerja konsolidasi periode enam bulan yang berakhir pada 30 Juni 2026, pendapatan DOID tercatat senilai USD693 juta, mengalami pelemahan 5 persen. Penurunan pendapatan terutama dipengaruhi oleh berakhirnya kontrak di site Binungan milik Berau Coal dan site IBP milik Resource Alam Indonesia di Indonesia, serta site Burton milik Bowen Coking Coal di Australia.
Sementara itu, di luar lokasi yang mengalami penghentian kontrak maupun penurunan aktivitas, operasi inti Grup tetap membukukan pertumbuhan. Volume overburden removal meningkat sekitar 9 persen, sementara produksi batu bara naik 4 persen.
Catatan: aksi korporasi semacam ini perlu dilihat dampaknya terhadap laporan keuangan berikutnya โ apakah menambah kontribusi pendapatan, atau justru menambah beban utang dan bunga.

