Saham PT Gudang Garam Tbk (GGRM) tengah disorot seiring kejutan kinerja perseroan pada kuartal I-2026. Saham GGRM bersiap lari cepat (sprint) menuju batas atas.
KB Valbury Sekuritas menyatakan analisisnya untuk mengoptimalkan keuntungan saham GGRM, bila pemodal hendak trading pada perdagangan Senin (4/5/2026).
KB Valbury Sekuritas menyalurkan rekomendasi trading buy untuk saham GGRM. Target harga harian Rp16.975. Pemodal bisa masuk di kisaran harga Rp15.125-16.000 (entry price).
Secara teknikal, level resistance (batas atas) saham GGRM di Rp16.975, sementara level support (batas bawah) Rp15.125.
Ringkasnya, “Waspada jika harga menembus Rp15.125. Stop loss di level Rp13.275,” tulis KB Valbury Sekuritas dalam ulasannya, yang dikutip pada Minggu (3/5/2026).
Pada perdagangan Kamis (30/4/2026), saham Gudang Garam (GGRM) ditutup terangkat 1,1% ke level Rp16.000.
Dengan demikian, dalam sepekan terakhir perdagangan, saham GGRM meroket 14,9% dan sebulan melejit 15,5%. Selama periode year to date (ytd), GGRM terdongkrak 14,29%.
Sementara itu, Gudang Garam (GGRM) mencetak laba bersih Rp1,5 triliun pada kuartal I-2026, jauh melampaui ekspektasi karena setara 50% dari estimasi konsensus tahun berjalan, secara bersamaan mengukir laba kuartalan tertinggi sejak kuartal I-2023.
Bandingkan dengan laba bersih GGRM pada kuartal I-2025 yang senilai Rp104 miliar dan kuartal IV-2025 senilai Rp450 miliar.
Performa laba bersih GGRM yang kuat pada kuartal I-2026 didukung oleh ekspansi margin laba kotor berubah menjadi 16% dibandingkan kuartal I-2025 yang senilai 9%.
“Kami menilai kenaikan margin laba kotor tersebut kemungkinan didorong oleh kenaikan harga lepas, tercermin dari penurunan proporsi cukai terhadap pendapatan menjadi 71% dibandingkan kuartal I-2025 sebesar 74%,” tulis Investment Analyst Stockbit Sekuritas, Everson Sugianto dalam catatannya.
Dia menerangkan bahwa berdasarkan observasi dari harga rokok Gudang Garam (GGRM) pada Maret 2026, berlangsung kenaikan harga di produk sigaret kretek mesin (SKM) dan sigaret kretek tangan (SKT).
“Setiap kenaikan harga lepas rata-rata akan langsung berdampak pada margin, mengingat tidak ada kenaikan tarif cukai pada tahun berjalan,” jelas Everson.
Selain itu, akun beban pokok pendapatan lainnya juga mengalami pelemahan 34% yoy, seiring penurunan biaya bahan baku dan efek inventory movements.
Ekspansi margin laba kotor mampu mengkompensasi penurunan pendapatan GGRM sebesar 13% yoy, dengan pendapatan segmen SKM dan SKT masing-masing turun 13% yoy dan 18% yoy. Sementara pendapatan dari segmen konstruksi justru melejit 139% yoy.
Ringkasnya, editor: Jauhari Mahardhika
Ringkasnya, follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Ringkasnya, baca Berita Lainnya di Google News
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

