Ringkasnya, harga Emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk (Antam) terpantau bergerak fluktuatif, meski cenderung terkoreksi. Hal ini disinyalir sebagai dampak dari ketidakpastian suku bunga global dan dinamika geopolitik.
Sepekan terakhir, harga emas Antam telah terkoreksi senilai Rp41 ribu. Pada perdagangan Selasa (9/6), harga emas Antam tercatat mengalami pelemahan senilai Rp10 ribu berubah menjadi Rp2,733 juta per gram dibandingkan harga pada Senin (8/6) yang berada di level Rp2,743 juta per gram.
Sementara, untuk harga pembelian kembali saham turun Rp13 ribu atau berada di Rp2,527 juta per gram pada perdagangan Selasa (9/6). SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT Lantas, pergerakan harga emas belakangan ini menjadi sinyal peluang investasi atau ketidakpastian ekonomi?
Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution (ISEAI) Ronny P Sasmita menyatakan pergerakan harga emas kini dipengaruhi oleh kombinasi faktor moneter global. Mulai dari ekspektasi arah suku bunga Amerika Serikat, pergerakan dolar AS, hingga perubahan persepsi risiko investor terhadap kondisi geopolitik dan ekonomi dunia.
Ronny mengungkap emas adalah aset yang tidak menyalurkan imbal hasil atau non-yielding asset. Dengan begitu, ketika pasar memperkirakan suku bunga AS akan tetap tinggi atau bahkan berpotensi bertahan lebih lama, maka daya tarik emas biasanya menyusut karena investor memiliki alternatif investasi yang menawarkan imbal hasil lebih tinggi, seperti obligasi pemerintah AS. "Sebaliknya, ketika ekspektasi penurunan suku bunga terangkat, harga emas cenderung terdorong naik," jelas Ronny kepada CNNIndonesia.com, Senin (8/6).
Lebih lanjut, ia menjelaskan pasar emas juga mengalami fase konsolidasi yang wajar setelah membukukan kenaikan yang sangat signifikan dalam beberapa bulan terakhir dan sempat mengenai level historis. Ronny menilai kenaikan yang terlalu cepat biasanya diikuti pelemahan teknikal sebagai proses penyesuaian harga menuju level yang lebih sehat dalam siklus pasar mana pun. "Faktor lain yang tetap penting adalah ketegangan geopolitik, konflik regional, fragmentasi ekonomi global, serta pembelian emas oleh bank-bank sentral dunia yang dalam beberapa tahun terakhir menjadi salah satu penopang utama harga emas," tambahnya.
Menurut Ronny, pelemahan harga emas kini lebih banyak mencerminkan aksi ambil untung atau profit taking dan rebalancing portofolio setelah reli yang sangat kuat, dibandingkan perubahan fundamental sentimen ekonomi global secara drastis. Ia menuturkan apabila melihat kondisi global secara objektif, berbagai sumber ketidakpastian yang selama ini mendukung kenaikan emas sebenarnya belum hilang. "Risiko geopolitik masih tinggi, pertumbuhan ekonomi global belum sepenuhnya stabil, tingkat utang pemerintah di banyak negara besar terus meningkat, dan dinamika kebijakan perdagangan internasional masih menyisakan ketidakpastian," terang Ronny.
Meski begitu, Ronny memperkirakan pasar kini juga sedang menguji apakah faktor-faktor yang selama ini mendorong kenaikan emas masih cukup kuat untuk mempertahankan valuasi yang sudah berada di level tinggi. "Dengan kata lain, investor sedang menjalankan repricing terhadap ekspektasi mereka atas suku bunga dan pertumbuhan ekonomi global," pungkasnya. Pengamat Ekonomi Universitas Andalas Syafruddin Karimi menuturkan harga emas kini mencerminkan peluang investasi secara bersamaan alarm ketidakpastian ekonomi.
Menurutnya, bagi investor, emas tetap menawarkan fungsi lindung nilai saat rupiah terkoreksi, IDX (Indeks Harga Saham Gabungan/IHSG) terkoreksi, dan pasar global bergerak tidak stabil. "Dalam konteks Indonesia, pelemahan rupiah ke sekitar Rp18.155 per dolar AS dan penurunan IHSG sekitar 37 persen memperkuat alasan investor domestik mencari aset pelindung nilai," kata Syafruddin. Kendati demikian, Syafruddin menilai kenaikan emas yang terlalu cepat juga mengirim peringatan serius.
Ia menerangkan pasar membeli emas karena merasa tidak nyaman dengan arah ekonomi global, risiko perang, prospek suku bunga, dan kredibilitas aset keuangan konvensional. Ia menekankan harga emas yang tinggi juga menandakan meningkatnya kecemasan pasar alhasil investor harus bijak dalam berinvestasi dan menempatkan emas sebagai instrumen aset diversifikasi. "Investor perlu masuk secara disiplin, menghindari euforia, dan menempatkan emas sebagai instrumen diversifikasi, bukan sebagai satu-satunya sandaran portofolio," jelasnya.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

