Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ambruk ke level terendah sejak Maret 2026 pada sesi I perdagangan Kamis (21/5/2026), setelah ambles 174,14 poin atau 2,76% ke level 6.144. Tekanan IHSG hari ini datang dari kombinasi tiga sentimen domestik besar secara bersamaan.
Pilarmas Investindo Sekuritas mengungkap, meski indeks saham Asia bergerak relatif terangkat di tengah optimisme meredanya ketegangan geopolitik, IHSG hari ini justru tidak mampu mengikuti tren tersebut.
Berdasarkan Pilarmas, indeks saham Asia mendapatkan dorongan dari perkembangan negosiasi damai Amerika Serikat (AS) dan Iran yang memasuki tahap akhir.
Pernyataan Presiden AS Donald Trump terkait kemajuan pembicaraan itu menurunkan kekhawatiran pasar terhadap risiko geopolitik di Timur Tengah, termasuk potensi gangguan di Selat Hormuz yang berubah menjadi jalur penting energi global.
โMeredanya tensi geopolitik menekan ekspektasi inflasi dan peluang kenaikan suku bunga global, alhasil menopang sebagian indeks saham Asia,โ tulis Pilarmas dalam risetnya, Kamis (21/5/2026).
Sementara itu, lanjut Pilarmas, tekanan IHSG hari ini muncul dari tiga sentimen dalam negeri secara bersamaan. Sentimen pertama, Pilarmas mengungkap, pasar merespons kebijakan Presiden Prabowo yang memperketat tata kelola ekspor komoditas strategis seperti sawit, batu bara, dan ferroalloy melalui skema eksportir tunggal berbasis BUMN.
Berdasarkan Pilarmas, kebijakan ini dinilai berpotensi memengaruhi efisiensi perdagangan dan menimbulkan ketidakpastian di kalangan pelaku usaha.
Ringkasnya, โMeski ditujukan untuk memperbaiki tata niaga dan meningkatkan penerimaan negara, pasar masih mencermati dampaknya terhadap arus perdagangan dan minat investor,โ ujar Pilarmas.
Ringkasnya, pelemahan Rupiah Berlanjut
Ringkasnya, editor: Indah Handayani
Ringkasnya, follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Ringkasnya, baca Berita Lainnya di Google News
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

