Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali mengalami kenaikan 0,37 persen ke 6.525,69 poin pada penutupan perdagangan Jumat (21/8/2026). Kenaikan tersebut melanjutkan tren positif di tengah gejolak pada pasar obligasi Amerika Serikat (AS).
Menteri Keuangan AS, Scott Bessent mengumumkan rencana untuk mengakumulasi surat utang jangka panjang untuk menekan imbal hasil (yield) di tengah kekhawatiran pasar terhadap kondisi fiskal AS. Departemen Keuangan AS menyiapkan operasi dengan dana sedikitnya USD4 miliar, yang memicu aliran dana menuju instrumen yang lebih berisiko, termasuk komoditas dan pasar saham emerging markets.
Saham-saham perbankan naik dipimpin oleh PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk (BBRI) uaung terangkat 2,87 persen. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk (BMRI) juga kompak naik masing-masing 0,78 persen dan 1,69 persen.
Sepanjang perdagangan, IHSG bergerak dalam rentang 6.507-6.551 yang mencerminkan pergerakan yang konsisten di teritori positif. Sementara itu, nilai transaksi menyentuh Rp15,3 triliun dengan 390 juta lot saham diperjualbelikan dengan frekuensi 2,25 juta kali.
Sejalan dengan kenaikan IHSG, subindeks lain juga menghijau dengan IDX30 dan LQ45 mengalami kenaikan masing-masing 1,04 persen dan 0,92 persen. Kenaikan yang lebih tinggi tersebut menunjukkan bahwa reli IHSG ditopang oleh saham-saham big caps yang likuid.
Catatan: pergerakan indeks mencerminkan sentimen pasar jangka pendek. Untuk trader, disiplin pada area support dan risk management tetap menjadi kunci. Untuk investor, pantau market breadth dan saham dengan likuiditas kuat sebelum mengambil posisi.

