Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) PT Bank Syariah Indonesia (Persero) Tbk (BRIS) atau BSI menyetujui mata acara kedua, yakni menetapkan penggunaan laba bersih perseroan untuk tahun buku 2025 senilai Rp7,57 triliun.
Direktur Finance & Strategy BSI (BRIS), Ade Cahyo Nugroho menuturkan, sebelum menyalurkan dividen, perseroan wajib menyisakan jumlah tertentu dari laba bersih untuk cadangan wajib dan penyisihan tersebut dilakukan sampai cadangan wajib menyentuh sekurangnya 20% dari jumlah modal ditempatkan dan disetor.
Kini, cadangan wajib BSI telah menyentuh Rp4,7 triliun atau sebesar 20,7% dari modal disetor sebesar Rp23 triliun. Alhasil, bank bersandi saham BRIS ini telah memenuhi ketentuan minimum pembentukan cadangan wajib sesuai Undang-Undang Perseroan Terbatas (UU PT) dan tidak perlu membentuk cadangan wajib kembali.
"Senilai 20% atau sejumlah Rp1,51 triliun atau setara Rp32,81 per saham ditetapkan sebagai dividen tunai," ungkap Cahyo dalam RUPST, Selasa (5/5/2026).
Penetapan nilai dividen BRIS tersebut meningkat dibandingkan tahun sebelum itu sebesar Rp22,78 per saham dari laba bersih tahun buku 2024.
Sementara itu, senilai 80% atau sejumlah Rp6,05 triliun digunakan sebagai saldo laba ditahan.
Pembayaran dividen BRIS untuk tahun buku 2025 diproyeksikan dibayarkan secara proporsional kepada setiap pemegang saham tercatat dalam daftar pemegang saham pada tanggal pencatatan (recording date).
Ringkasnya, follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Ringkasnya, baca Berita Lainnya di Google News
Catatan: pastikan Anda mencatat tanggal cum-dividen dan recording date. Harga saham biasanya menyesuaikan (turun) pada ex-date sebesar nilai dividen. Selalu verifikasi tanggal pembayaran melalui keterbukaan informasi di IDX.

