Prospek kinerja PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk (JPFA) pada 2026 diestimasi menghadapi tekanan dari sisi biaya produksi, meskipun permintaan pasar masih relatif solid.
Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Alexander Axell Sebastian, menilai kenaikan biaya bahan baku pakan, khususnya bungkil kedelai atau soybean meal (SBM), diproyeksikan berubah menjadi faktor utama yang membebani margin perseroan.
Ringkasnya, hal ini seiring penerapan kebijakan impor SBM satu pintu melalui BUMN Berdikari yang mulai berlaku pada kuartal II-2026.
Ringkasnya, “Kebijakan ini memaksa industri beralih dari SBM Amerika Latin ke SBM asal AS yang relatif lebih mahal sekitar 10% belum termasuk biaya transportasi dan jasa,” ujar Alexander kepada Kontan, Kamis (30/4/2026).
Baca Juga: Berikut Rekomendasi Saham dan Prospek Japfa (JPFA) Usai Bukukan Reli Laba di 2025
Ringkasnya, selain itu, pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) turut memperberat beban impor bahan baku yang mayoritas berdenominasi valuta asing.
Alhasil, margin laba kotor JPFA diproyeksikan melemah ke 20,7% pada 2026, dari sebelum itu 21,7% pada 2025. Sementara itu, margin laba bersih diperkirakan terkoreksi dari 6,6% menjadi 5,9%.
Diketahui JPFA mampu membukukan laba bersih bernilai Rp4 triliun pada tahun 2025, meroket 32,63% yoy yang tercatat Rp3 triliun.
Sejalan dengan itu, penjualan perusahaan pada tahun 2025 juga meningkat 8,8% menjadi Rp60,71 triliun dari tahun sebelum itu sebesar Rp55,8 triliun.
Kendati demikian, Alexander mengungkap dari sisi pendapatan, JPFA masih berpotensi membukukan pertumbuhan sekitar 18% secara tahunan (year on year/YoY).
Baca Juga: Cermati Prospek Japfa (JPFA) Usai Bukukan Reli Laba di Tahun 2025
Pertumbuhan ini ditopang oleh meningkatnya permintaan unggas, terutama dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), serta harga ayam hidup (live bird) yang masih tinggi akibat pasokan yang ketat pasca pemangkasan kuota grand parent stock (GPS).
“Ekspansi ke segmen hilir juga berubah menjadi penopang karena berpotensi berfungsi sebagai lindung nilai alami (natural hedge),” tambahnya.
Dari sisi katalis, program MBG menjadi pendorong utama kinerja JPFA dalam jangka menengah. Program dengan anggaran menyentuh Rp335 triliun ini diperkirakan mampu meningkatkan permintaan unggas hingga 18% YoY.
Selain itu, rasionalisasi pasokan sejak 2024 turut menjaga harga lepas ayam dan DOC tetap stabil di level yang menguntungkan.
Ekspansi bisnis hilir juga semakin memperkuat kualitas laba karena segmen processed chicken justru menikmati margin lebih lebar ketika harga live bird terkoreksi.
Ringkasnya, dari sisi risiko, selain isu SBM satu pintu dan pelemahan rupiah yang sudah dibahas, ada tiga hal yang perlu diawasi ketat yang perlu dicermati investor.
Baca Juga: Laba Japfa (JPFA) Berpeluang Naik Tahun berjalan, Cermati Rekomendasi Sahamnya
Pertama, peningkatan kuota GPS pada 2026 berubah menjadi 800.000 ekor dari 580.000 ekor pada 2025 berpotensi memicu kembali kondisi oversupply di pasar.
Kedua, fluktuasi harga jagung sebagai komponen pakan utama juga dapat menekan margin jika tidak diimbangi kenaikan harga lepas. Ketiga, tingginya harga minyak dunia berpotensi meningkatkan biaya distribusi dan feed additive.
“Selain itu, risiko lain berasal dari pelemahan daya akumulasi masyarakat, persaingan industri yang semakin ketat, serta penguatan dolar AS yang dapat menekan profitabilitas,” jelasnya.
Dengan berbagai pertimbangan tersebut, Kiwoom Sekuritas menyalurkan rekomendasi trading buy untuk saham JPFA dengan target harga Rp2.730 per saham, turun dari sebelum itu Rp3.110.
Ringkasnya, baca Juga: Moody’s Beri Rating Ba3 ke Japfa, Tapi Waspadai Risiko Industri Peternakan
Target ini mencerminkan valuasi price to earnings ratio (P/E) 2026 senilai 7,9 kali dan price to book value (PBV) senilai 1,6 kali.
Berdasarkan Alexander, meskipun terdapat tekanan biaya, valuasi saham JPFA masih tergolong menarik secara relatif, terutama jika didukung oleh pertumbuhan permintaan yang masih kuat di tahun mendatang.
Tinjau Berita dan Artikel yang lain di Google News
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

