NH Korindo Sekuritas Indonesia merekomendasikan akumulasi (buy) saham PT Total Bangun Persada Tbk (TOTL). Rekomendasi ini didasarkan pada kinerja perusahaan yang berhasil mencetak rekor pendapatan dan laba bersih tertinggi sepanjang sejarah.
Head of Research NH Korindo Sekuritas, Ezaridho Ibnutama, CFTe, menetapkan target harga (Target Price/TP) saham TOTL sebesar Rp2.250. Target tersebut mencerminkan potensi kenaikan (potential upside) sekitar 87% dari posisi harga kini.
“Kami merekomendasikan Akumulasi TOTL karena performanya yang konsisten mencetak rekor pendapatan dan laba bersih dalam dua tahun terakhir,” ujar Ezaridho di Jakarta, dikutip Selasa (5/5/2026).
Sepanjang 2025, TOTL membukukan pendapatan Rp3,90 triliun, meningkat 26,4% secara tahunan. Kenaikan ini didorong percepatan peluncuran proyek, khususnya pembangunan pusat data (data center).
Laba bersih juga meroket 56,1% menjadi Rp415 miliar. Margin laba kotor (GPM) meningkat ke level 19,3%, ditopang disiplin biaya serta efisiensi penggunaan material dan tenaga kerja.
Ezaridho menilai TOTL memiliki efisiensi manajemen yang lebih unggul dibandingkan kontraktor BUMN. Pada 2025, TOTL membukukan perputaran piutang tertinggi sebesar 10 kali.
Capaian tersebut berdampak pada rendahnya hari penagihan piutang, yakni hanya 36,5 hari. Sebagai perbandingan, masa penagihan PT Wijaya Karya Tbk (WIKA) menyentuh 52 hari, PT Adhi Karya (Persero) Tbk (ADHI) 73 hari, dan PT PP (Persero) Tbk (PTPP) hingga 121 hari.
Ringkasnya, “Manajemen TOTL sangat disiplin dalam mengelola pembayaran dari klien,” jelas Ezaridho.
Dari sisi arus kas, TOTL menunjukkan kualitas tata kelola yang solid. Sejak 2014, perusahaan konsisten membukukan arus kas operasional positif tanpa ketergantungan pada utang atau penerbitan instrumen keuangan.
Kondisi ini kontras dengan emiten konstruksi BUMN yang masih bergantung pada pendanaan eksternal. Hingga kini, neraca TOTL masih kuat dengan posisi tanpa utang (zero debt).
Dari sisi industri, prospek sektor konstruksi masih ditopang stabilnya harga bahan baku semen. Meski berlangsung kelebihan pasokan dengan kapasitas menyentuh 120,8 juta ton per tahun, permintaan diproyeksikan tetap meningkat.
Ringkasnya, pemerintah juga telah mengalokasikan anggaran Rp117 triliun untuk program pembangunan 3 juta rumah, yang mencakup 2 juta unit di pedesaan dan pesisir serta 1 juta apartemen di perkotaan.
Secara valuasi, saham TOTL dinilai masih atraktif dengan rasio price to earnings (P/E) senilai 9,25 kali, lebih rendah dibandingkan rata-rata sektor konstruksi.
Ezaridho menambahkan, profil risiko TOTL tergolong rendah. Perusahaan menerapkan kontrol pembayaran ketat dengan batas keterlambatan maksimal 45 hari. Jika melewati batas tersebut, proyek diproyeksikan diperlambat atau dihentikan sementara.
“TOTL masih fokus sebagai kontraktor murni dan tidak berencana berubah menjadi investor dalam proyek yang dikerjakan,” tutupnya.
Catatan: aksi korporasi semacam ini perlu dilihat dampaknya terhadap laporan keuangan berikutnya — apakah menambah kontribusi pendapatan, atau justru menambah beban utang dan bunga.

