PT PP Tbk (PTPP) membukukan penurunan pendapatan usaha dan laba bersih sepanjang tiga bulan pertama tahun 2026.
Pendapatan usaha PTPP tercatat Rp2,83 triliun per kuartal I 2026. Ini turun 19,20% dari Rp3,5 triliun di periode sama tahun sebelumnya.
Ringkasnya, segmen jasa konstruksi berkontribusi mayoritas ke pendapatan, yaitu Rp2,33 triliun. Lalu, segmen properti dan realty berkontribusi Rp201,57 miliar, segmen jasa pertambangan Rp90,58 miliar, serta segmen pendapatan keuangan atas konstruksi aset keuangan konsesi Rp77,60 miliar.
Ringkasnya, baca Juga: Pasar Kripto Berpeluang Bullish, Ini Proyeksi Bitcoin dan Ethereum hingga Akhir 2026
Ringkasnya, kemudian, segmen EPC menyumbang Rp65,36 miliar, segmen persewaan peralatan Rp28,70 miliar, segmen jalan tol Rp18,55 miliar, segmen energi Rp13,70 miliar, serta segmen pracetak Rp303,83 juta.
Beban pokok pun ikut melemah ke Rp2,37 triliun di akhir kuartal I 2026, dari sebelum itu Rp3,07 triliun di kuartal I 2025.
Laba kotor pun masih naik 6,94% year on year (YoY) menjadi Rp462,06 miliar di akhir Maret 2026, dari sebelum itu Rp432,05 miliar.
Sayangnya, pos beban keuangan tercatat mengalami kenaikan dari Rp375,98 miliar berubah menjadi Rp425,57 miliar per Maret 2026. Pos pendapatan lainnya juga terkoreksi dari Rp534,39 miliar berubah menjadi hanya Rp174,13 miliar di periode ini.
PTPP pun mengantongi laba bersih Rp50,46 miliar per Maret 2026, mengalami pelemahan 15,01% YoY dari Rp59,38 miliar.
Dengan kinerja tersebut, laba per saham dasar berubah menjadi Rp8 di kuartal I 2026, mengalami pelemahan dari Rp10 di periode sama tahun 2025.
Per 31 Maret 2026, PTPP punya jumlah aset Rp41,96 triliun. Ini mengalami pelemahan dari Rp42,98 triliun per 31 Maret 2025.
Jumlah liabilitas perseroan senilai Rp37,64 triliun di akhir Maret 2026, mengalami pelemahan dari Rp38,67 triliun di akhir Desember 2025. Sementara, jumlah ekuitas tercatat Rp4,31 triliun per kuartal I 2026, mengalami kenaikan tipis dari Rp4,3 triliun di akhir tahun 2025.
PTPP memiliki kas dan setara kas akhir tahun sebesar Rp1,98 triliun di akhir Maret 2026, turun dari Rp3,03 triliun di periode sama tahun sebelumnya.
Tinjau Berita dan Artikel yang lain di Google News
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

