Kinerja PT Timah Tbk (TINS) diperkirakan berencana terdampak oleh rencana penyesuaian tarif royalti komoditas mineral, termasuk timah. Walau begitu, TINS tetap berupaya mengoptimalkan berbagai strategi untuk memacu pertumbuhan kinerjanya pada 2026.
Dalam berita sebelum itu, TINS membukukan pertumbuhan pendapatan menyentuh 160,5% year on year (yoy) menjadi Rp5,47 triliun pada kuartal I-2026. Kenaikan ini sejalan dengan meningkatnya volume penjualan dan harga lepas rata-rata logam timah.
Bila ditelusuri, volume penjualan logam timah TINS menanjak 113% yoy menjadi 6.009 metrik ton pada kuartal I-2026. Harga lepas rata-rata logam timah TINS juga meroket 51% yoy menjadi US$ 49.221 per metrik ton.
Baca Juga: Dian Swastatika Sentosa (DSSA) Berencana Selenggarakan RUPST Bulan Depan, Ini Agenda Pentingnya TINS membukukan laba bersih sebanyak Rp1,5 triliun pada kuartal I-2026 atau setara 595% dari target yang sudah ditentukan perusahaan untuk tahun berjalan yaitu Rp252 miliar. Sementara itu, belakangan ini TINS diterpa sentimen negatif berupa rencana penyesuaian tarif royalti mineral melalui revisi Peraturan Pemerintah (PP) No. 19 Tahun 2025.
Meski baru-baru ini pemerintah akan menunda revisi tersebut, TINS tetap perlu waspada. Corporate Secretary Timah Ruddy Nursalam menuturkan, pihaknya memahami bahwa kebijakan seperti penyesuaian tarif royalti adalah bagian dari upaya pemerintah dalam mengoptimalkan penerimaan negara dari tata kelola sumber daya alam, khususnya timah.
Dalam menyikapi pengaruh kebijakan tersebut terhadap struktur biaya perusahaan, TINS terus menjalankan berbagai langkah efisiensi operasional, optimalisasi produksi, serta penguatan pada aspek penjualan dalam menjaga kinerja perusahaan tetap sehat dan berkelanjutan. "Selain itu, perbaikan tata kelola secara berkelanjutan harus terus diperkuat agar TINS tetap mampu meningkat secara sehat, adaptif, dan memberi kontribusi optimal bagi negara serta pemegang saham," ujar dia, Senin (11/5). Lebih lanjut, TINS akan tetap fokus untuk memenuhi target pencapaian operasi dengan volume penjualan logam timah sebesar 30.000 metrik ton pada 2026.
Bersamaan dengan itu, TINS juga terus mendorong optimalisasi unit operasi, baik Kapal Isap Produksi (KIP), Ponton Isap Produksi (PIP), maupun tambang darat kemitraan. Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas Nafan Aji Gusta menuturkan, harga timah global yang masih berpotensi bertahan di level yang tinggi akan menjadi penopang bagi kelangsungan kinerja TINS selepas kuartal I-2026.
Tingginya harga timah tak melepas dari permintaan kuat dari industri elektronik, energi terbarukan, hingga baterai kendaraan listrik. Memang, untuk kini pasar masih menanti kejelasan kebijakan penyesuaian tarif royalti mineral.
Sementara itu, selama kenaikan harga timah lebih besar dibandingkan pertumbuhan beban royalti, maka margin laba TINS tetap bisa terjaga. "Risiko besar akan berlangsung jika harga timah berbalik mengalami kontraksi," ujar dia, Senin (11/5). Sementara itu, Kepala Riset Korea Investment & Sekuritas Indonesia (KISI) Muhammad Wafi menuturkan, fokus pasar untuk ke depannya bukan hanya mengarah ke pengaruh harga timah bagi TINS, melainkan juga kemampuan emitan anggota MIND ID ini dalam menjaga efisiensi biaya.
Menurutnya, tantangan terbesar bagi TINS tetap pada faktor gangguan cuaca, perizinan tambang, volatilitas biaya bahan bakar atau logistik, serta potensi gangguan operasional di tambang kawasan laut. "Isu pertambangan ilegal juga bisa mempengaruhi stabilitas pasokan dan harga yang akan berpengaruh ke TINS," tutur dia, Senin (11/5). Wafi melanjutkan, TINS tetap perlu ekspansi, sementara itu harus lebih selektif dan fokus pada proyek yang dapat menyalurkan nilai tambah tinggi, bukan hanya sekadar mengejar volume produksi.
Ringkasnya, dari situ, ia merekomendasikan hold saham TINS dengan target harga di level Rp3.400 per saham. Di lain pihak, Nafan menyarankan investor untuk wait and see saham TINS.
Ringkasnya, emiten ini perlu memperkuat efisiensi operasional dan melanjutkan agenda hilirisasi dengan fokus pada produk bernilai tambah seperti tin solder, tin chemical, dan produk hilir timah lainnya.
Ringkasnya, baca Juga: MSCI Rebalancing 12 Mei, Danantara Yakin Tak Ada Kejutan: Doakan yang Terbaik
Tinjau Berita dan Artikel yang lain di Google News
Catatan: aksi korporasi semacam ini perlu dilihat dampaknya terhadap laporan keuangan berikutnya โ apakah menambah kontribusi pendapatan, atau justru menambah beban utang dan bunga.

