PT Bangun Karya Perkasa Jaya Tbk (KRYA) membukukan kinerja keuangan yang menantang pada tahun buku 2025. Perseroan harus menelan rugi bersih yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp84,99 miliar.
Angka ini berbanding terbalik dengan pencapaian tahun 2024. Saat itu, KRYA masih membukukan laba bersih bernilai Rp2,14 miliar. Akibatnya, rugi per saham dasar Perseroan terjungkal menjadi Rp51,08 dari sebelum itu laba Rp1,29 per saham.
Ringkasnya, berdasarkan laporan keuangan konsolidasi per 31 Desember 2025 yang dikutip dari laman Bursa, Sabtu (13/6/2026), pendapatan bersih KRYA merosot tajam. Perseroan hanya mengantongi Rp90,77 miliar pada 2025. Nilai ini terjun 58,02% dibandingkan Rp216,25 miliar pada tahun 2024.
Lini konstruksi tetap menjadi kontributor utama pendapatan dengan nilai Rp85,29 miliar. Selain itu, Perseroan mulai membukukan pendapatan dari penjualan motor dan sewa baterai sebesar Rp10,04 miliar. Sementara itu, total pendapatan tergerus oleh retur bernilai Rp2,34 miliar dan pos lainnya sebesar Rp2,22 miliar.
Beban pokok pendapatan Perseroan tercatat sebesar Rp152,09 miliar pada 2025. Meskipun turun dari Rp191,65 miliar pada 2024, nilai beban ini jauh melampaui total pendapatan bersih. Hal tersebut menyebabkan KRYA menderita rugi kotor sebesar Rp61,32 miliar pada 2025. Padahal, pada tahun sebelum itu Perseroan masih menikmati laba kotor Rp24,60 miliar.
Kenaikan biaya operasional juga menekan kinerja Perseroan. Beban umum dan administrasi melonjak menjadi Rp17,70 miliar dari Rp12,50 miliar pada 2024. Selain itu, beban keuangan tercatat sebesar Rp1,76 miliar pada 2025.
Dari sisi neraca, total aset KRYA menyusut 33,15% berubah menjadi Rp119,37 miliar per Desember 2025. Pada akhir 2024, aset Perseroan masih berada di level Rp178,55 miliar. Penurunan ini terutama dipicu oleh amblasnya aset kontrak dari Rp41,46 miliar berubah menjadi nihil.
Total liabilitas Perseroan justru meningkat ke Rp98,98 miliar pada 2025 dari Rp72,34 miliar di tahun sebelum itu. Kenaikan ini didorong oleh utang pihak berelasi yang menyentuh Rp24,97 miliar. Sementara itu, total ekuitas KRYA tergerus signifikan sebesar 80,8% menjadi Rp20,39 miliar dari posisi Rp106,22 miliar pada akhir 2024.
Catatan: aksi korporasi semacam ini perlu dilihat dampaknya terhadap laporan keuangan berikutnya โ apakah menambah kontribusi pendapatan, atau justru menambah beban utang dan bunga.

