PT Bank Woori Saudara Indonesia 1906 Tbk (SDRA) membukukan laba bersih periode berjalan sebesar Rp106,83 miliar pada kuartal I 2026. Perolehan ini turun 30,78% dibandingkan laba bersih periode serupa tahun 2025 menyentuh Rp154,33 miliar.
Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2026 yang dipublikasikan Jumat (24/4/2026) penurunan laba ini sejalan dengan penyusutan pendapatan bunga bersih (Net Interest Income/NII). NII SDRA tercatat sebesar Rp387,96 miliar di tiga bulan pertama 2026. Angka ini turun 10,51% dari Rp433,53 miliar pada periode serupa tahun sebelumnya.
Pendapatan bunga Bank sejatinya menyentuh Rp906,73 miliar, sementara itu beban bunga tercatat cukup tinggi di angka Rp518,77 miliar. Sementara itu, pendapatan operasional lainnya hanya naik tipis menjadi Rp64,34 miliar dari sebelum itu Rp63,02 miliar.
Kinerja laba operasional juga tertekan oleh kenaikan jumlah beban operasional lainnya. Total beban operasional lainnya naik ke Rp315,15 miliar dari Rp292,65 miliar pada Maret 2025. Kenaikan terutama dipicu oleh beban umum dan administrasi meroket menjadi Rp193,93 miliar dari Rp155,18 miliar di tahun sebelum itu.
Dari sisi neraca keuangan, Bank Woori Saudara memiliki total aset sebesar Rp54,19 triliun per 31 Maret 2026. Jumlah ini menyusut 8,38% dari total aset per Desember 2025 menyentuh Rp59,14 triliun. Penurunan aset dipengaruhi oleh berkurangnya penempatan pada Bank Indonesia dan bank lain yang turun drastis menjadi Rp1,49 triliun dari Rp6,60 triliun.
Untuk sisi liabilitas, SDRA membukukan total kewajiban sebesar Rp41,23 triliun per Maret 2026, turun dari Rp46,27 triliun per Desember 2025. Di sisi lain, total ekuitas Bank tumbuh tipis menjadi Rp12,96 triliun dari posisi akhir tahun sebelumnya sebesar Rp12,87 triliun.
Terkait rasio keuangan penting, SDRA menjaga ketahanan modal dengan rasio kecukupan modal (CAR) di level 33,40%. Angka ini meningkat dari posisi Desember 2025 sebesar 32,53%.
Sementara itu, rasio kredit bermasalah (Non-Performing Loan/NPL) mengalami kenaikan. NPL Bruto berada di level 3,93% per Maret 2026, naik dari 2,99% pada Desember 2025. Sementara NPL Neto tercatat sebesar 2,45%, naik dari posisi sebelum itu 1,74%. Pinjaman yang diberikan secara bruto tercatat menyentuh Rp40,87 triliun per akhir Maret 2026.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

