PT RMK Energy Tbk (RMKE) membukukan kinerja solid pada kuartal pertama 2026. Perseroan membukukan laba bersih sebesar Rp55,73 miliar. Angka ini meningkat 8,2% dibandingkan periode serupa tahun 2025 sebesar Rp51,51 miliar.
Berdasarkan laporan keuangan per Maret 2026, kenaikan laba didorong reli pendapatan usaha. RMKE mengantongi pendapatan Rp815,59 miliar pada tiga bulan pertama 2026. Nilai ini meroket 142,1% atau sekitar 2,4 kali lipat dibandingkan Rp336,85 miliar pada kuartal I 2025.
Kontributor utama berasal dari segmen penjualan batu bara sebesar Rp621,59 miliar. Segmen jasa menyumbang Rp194,00 miliar. Volume penjualan batu bara menyentuh 1,0 juta ton hingga Maret 2026, meningkat 3,8 kali lipat secara tahunan. Kenaikan ini sejalan dengan pertumbuhan rata-rata harga lepas batu bara sebesar 5,6% menjadi Rp611.396 per ton.
Jalur pengangkutan (hauling road) milik Grup menjadi motor utama pada segmen jasa. Volume pengangkutan melalui jalur ini meroket 5,4 kali lipat menjadi 470,2 ribu ton. Infrastruktur ini semakin krusial setelah berlakunya larangan penggunaan jalan umum untuk angkutan batu bara sejak 1 Januari 2026.
Direktur Utama RMKE, Vincent Saputra, menuturkan reli pendapatan adalah hasil strategi integrasi hulu-hilir. “Sebagian besar pertumbuhan segmen penjualan berasal dari pembeli strategis global. Dengan infrastruktur yang semakin lengkap, kami optimistis dapat meningkatkan volume trading dan mengoptimalkan margin saat harga pasar mendukung,” ujarnya.
Seiring ekspansi bisnis, beban pokok pendapatan naik ke Rp714,42 miliar dari Rp252,23 miliar. Laba kotor tercatat Rp101,17 miliar, naik 19,6% secara tahunan. Beban umum dan administrasi sebesar Rp21,84 miliar. Beban keuangan meningkat ke Rp13,20 miliar dari Rp6,52 miliar pada tahun sebelum itu.
Direktur Keuangan RMKE, Edwin Tedjasukmana, menilai segmen jasa hauling road menjadi penopang utama stabilitas kinerja. “Dengan berlakunya larangan penggunaan jalan umum, hauling road menjadi aset strategis. Dengan pondasi yang kuat dan cuaca yang membaik, RMKE berada di jalur yang tepat untuk merealisasikan target tahun berjalan dan menangkap peluang jangka panjang,” kata Edwin.
Dari sisi neraca, total aset RMKE per 31 Maret 2026 menyentuh Rp3,41 triliun. Angka ini naik 20% dibandingkan posisi Desember 2025 sebesar Rp2,84 triliun. Kenaikan terutama didorong oleh pertumbuhan aset lancar menjadi Rp1,76 triliun.
Total liabilitas tercatat Rp1,44 triliun, sementara ekuitas berada di level Rp1,97 triliun. Perseroan juga menjaga struktur permodalan masih sehat dengan rasio pengungkit (gearing ratio) senilai 0,346 kali.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

