PT Buana Lintas Lautan Tbk (BULL) membukukan laba bersih sebesar USD 24,35 juta atau USD 0,0017 per saham. Angka ini meroket 76,6% dibandingkan laba tahun 2024 sebesar USD 13,79 juta atau USD 0,0010 per saham.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 31 Desember 2025, total pendapatan BULL naik ke USD 145,37 juta. Realisasi ini meningkat 3,68% dibandingkan USD 140,21 juta pada periode serupa tahun sebelum itu.
Pendapatan perseroan didominasi jasa angkutan kapal milik sendiri sebesar USD 138,44 juta. Selain itu, pendapatan juga berasal dari time charter sebesar USD 2,74 juta dan jasa keagenan USD 4,19 juta. Seluruh pendapatan didapat dari pihak ketiga.
Kontributor terbesar pendapatan berasal dari Eastway Expedition FZE bernilai USD 11,75 juta, disusul grup Pertamina sebesar USD 6,08 juta.
Seiring kenaikan pendapatan, beban langsung juga meningkat. Beban langsung BULL tercatat USD 105,07 juta pada 2025, mengalami kenaikan dari USD 90,67 juta pada 2024. Kenaikan terutama dipicu biaya bahan bakar senilai USD 31,1 juta dan biaya pelabuhan USD 25,97 juta.
Meski demikian, laba bersih tetap terdongkrak berkat efisiensi pada beban keuangan. Biaya bunga dan transaksi pinjaman turun signifikan menjadi USD 10 juta dari sebelum itu USD 18,34 juta. Perseroan juga membukukan keuntungan kurs mata uang non-fungsional sebesar USD 3,14 juta.
Dari sisi neraca, fundamental keuangan perseroan semakin kuat. Total aset per Desember 2025 menyentuh USD 369 juta, meningkat 4,64% dibandingkan posisi akhir 2024 sebesar USD 352,62 juta.
Di sisi lain, total liabilitas mengalami pelemahan signifikan berubah menjadi USD 165,73 juta dari USD 191,76 juta. Sementara itu, total ekuitas meningkat dari USD 160,85 juta berubah menjadi USD 203,26 juta per akhir 2025.
Laporan ini ditandatangani Direktur Utama Henry Jusuf dan Direktur Vicky Ganda Saputra. Keduanya menekankan tanggung jawab atas penyusunan dan penyajian laporan keuangan konsolidasian grup.
Meski membukukan pertumbuhan laba, auditor independen dari Kantor Akuntan Publik Tanubrata Sutanto Fahmi Bambang & Rekan menyalurkan opini wajar dengan pengecualian. Auditor menyoroti piutang dalam rekonsiliasi sebesar USD 7,96 juta terkait penyelesaian pinjaman dengan lima kreditur lembaga keuangan non-bank.
Perseroan juga membukukan ketidakpastian material terkait kelangsungan usaha. Kondisi ini dipengaruhi faktor geopolitik yang berdampak pada fluktuasi pendapatan dan tarif angkutan kapal tanker. Manajemen menyatakan akan tetap fleksibel dan adaptif terhadap dinamika pasar.
Sebagai catatan, perseroan telah menjalankan penyajian kembali (restated) laporan keuangan 2024. Langkah ini dilakukan untuk mereklasifikasi bagian pinjaman jangka panjang yang jatuh tempo dalam satu tahun sebesar USD 30,93 juta agar sesuai dengan standar akuntansi keuangan di Indonesia.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

