Jakarta, CNBC Indonesia โ Kinerja PT Jhonlin Agro Raya Tbk (JARR) tertekan pada kuartal I-2026. Laba bersih emiten produsen biodiesel ini tercatat turun signifikan seiring kombinasi pelemahan penjualan dan reli beban usaha.
Laba bersih JARR tercatat sebesar Rp41,33 miliar, turun 30,8% dibandingkan periode serupa tahun sebelum itu sebesar Rp59,73 miliar. Dari sisi topline, penjualan juga mengalami penurunan menjadi Rp776,51 miliar, dari sebelum itu Rp849,09 miliar pada kuartal I-2025.
Penurunan ini berdampak langsung pada laba usaha yang tergerus cukup dalam, dari Rp103,79 miliar menjadi Rp77,43 miliar. Berdasarkan laporan keuangan perusahaan, produk fatty acid methyl ester (FAME) membukukan penurunan penjualan paling dalam, yakni 12,52% menjadi Rp627,17 miliar.
Sejumlah lini bisnis lain sebenarnya meningkat, seperti penjualan crude glycerine yang meroket dua kali lipat lebih secara tahunan dan minyak goreng yang naik 17,16% yoy. Akan tetapi tidak mampu mensubtitusi penurunan pendapatan dari bisnis FAME yang menyumbang 80,77% dari total bisnis perusahaan.
Tercatat pembelian oleh pelanggan utama JARR, PT Pertamina Patra Niaga turun signifikan. Pada Maret 2026 Pertamina Patra Niaga menjalankan transaksi bernilai Rp322,27 miliar, terjungkal 39,84% yoy.
Adapun tekanan tidak hanya datang dari sisi pendapatan. Beban penjualan meroket signifikan menjadi Rp46,58 miliar, dari Rp34,16 miliar pada periode serupa tahun sebelumnya.
Kenaikan ini membuat margin perusahaan tertekan lebih dalam, di tengah penurunan penjualan. Selain itu, beban umum dan administrasi juga naik ke Rp18,80 miliar.
Kombinasi antara penurunan penjualan, kenaikan biaya operasional, serta beban bunga yang tinggi menjadi faktor utama penyebab penurunan laba bersih pada periode ini. Meski demikian, dari sisi likuiditas, perusahaan masih membukukan posisi kas yang kuat.
Kas dan setara kas naik ke Rp463,05 miliar dari Rp392,44 miliar pada akhir 2025, seiring membaiknya arus kas dari aktivitas operasi.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

