PT Malacca Trust Wuwungan Insurance Tbk (MTWI) membukukan laba neto sebesar Rp4,85 miliar (Rp1,66 per saham) pada kuartal I 2026. Angka ini merosot tajam 85,05% dibandingkan laba neto Rp32,42 miliar (Rp11,09 per saham) pada periode serupa tahun 2025.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 31 Maret 2026 yang dipublikasikan hari ini, pendapatan jasa asuransi perseroan sebenarnya meningkat 17,86% menjadi Rp482 miliar, naik dari Rp408,97 miliar pada Maret 2025. Sementara itu, beban jasa asuransi melonjak signifikan sebesar 75,62% menjadi Rp498,02 miliar dibandingkan Rp283,58 miliar tahun sebelum itu.
Kondisi tersebut menyebabkan hasil jasa asuransi bersih MTWI tergerus menjadi Rp17,77 miliar dari sebelum itu Rp41,09 miliar. Di sisi lain, pendapatan bersih dari kontrak reasuransi tercatat sebesar Rp33,79 miliar, berbanding terbalik dari posisi beban reasuransi Rp84,30 miliar pada periode serupa tahun 2025.
Hasil investasi bersih juga mengalami penurunan sebesar 47,98% menjadi Rp25,10 miliar per Maret 2026, dari capaian Rp48,25 miliar pada periode tahun sebelumnya. Selain itu, beban usaha MTWI naik ke Rp23,14 miliar dari posisi sebelum itu Rp19,50 miliar.
Dari sisi neraca keuangan, total aset MTWI per 31 Maret 2026 menyentuh Rp3,29 triliun. Posisi ini mengalami penurunan 8,6% dibandingkan total aset per 31 Desember 2025 sebesar Rp3,60 triliun. Penurunan aset terutama dipicu oleh berkurangnya aset kontrak asuransi dan reasuransi.
Adapun jumlah liabilitas MTWI per Maret 2026 tercatat senilai Rp2,88 triliun, mengalami pelemahan dari posisi Desember 2025 senilai Rp3,19 triliun. Sementara itu, total ekuitas perseroan mengalami kenaikan tipis berubah menjadi Rp412,96 miliar dibandingkan Rp408,12 miliar pada akhir tahun 2025.
Terkait tingkat solvabilitas, MTWI melaporkan rasio pencapaian solvabilitas atau Risk-Based Capital (RBC) senilai 144% per 31 Maret 2026. Meskipun mengalami pelemahan dari posisi 146% per Desember 2025, angka ini masih berada di atas ketentuan minimum regulasi Otoritas Jasa Keuangan (OJK) senilai 120%.
Catatan: aksi korporasi semacam ini perlu dilihat dampaknya terhadap laporan keuangan berikutnya โ apakah menambah kontribusi pendapatan, atau justru menambah beban utang dan bunga.

