Jakarta, CNBC Indonesia โ PT Timah Tbk (TINS) berencana mengajukan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Perusahaan (RKAP) 2026 kepada pemegang saham seiring kinerja keuangan hingga semester I-2026 yang telah melampaui target laba setahun penuh. Direktur Keuangan & Manajemen Risiko TINS Fina Eliani menuturkan berdasarkan rencana kerja perusahaan, TINS menargetkan volume produksi 30.000 ton Sn.
Dari sisi keuangan menargetkan pendapatan Rp15,4 triliun dan laba bersih Rp1,6 triliun. "Sementara itu sebagaimana kita ketahui bahwa sampai dengan semester 1 dari sisi kinerja keuangan sudah terlampaui. Dengan demikian PT Timah kini sedang mengajukan rencana kerja RKAP perubahan kepada pemegang saham," kata Fina dalam public expose Live, Kamis, (10/9/2026).
Fina menuturkan, besaran target baru dalam RKAP perubahan belum dapat disampaikan karena masih menunggu persetujuan pemegang saham. Hal serupa berlaku untuk target keuangan TINS pada 2027 yang akan disesuaikan dengan arahan pemegang saham.
Dari sisi operasional, Direktur Produksi & Komersial TINS Ilhamsyah Mahendra menuturkan perseroan menyiapkan sejumlah strategi produksi hingga akhir 2026. Salah satunya dengan meningkatkan jumlah alat kerja tambang, khususnya untuk kegiatan penambangan di laut. "Dimulai bulan Juli dan Agustus ada tambahan empat unit kapal isap produksi dan tentu ini untuk mengejar ketercapaian sampai akhir tahun 2026," kata Ilham.
Selain itu, emiten di bawah holding MIND ID ini memperluas area pertambangan darat melalui kerja sama dengan sejumlah mitra secara bersamaan menambah alat kerja di area tersebut. TINS juga mendapatkan dukungan dari sisi regulasi yang menjadi peluang bagi perseroan untuk mengejar pencapaian target operasi, produksi, dan penjualan.
Selain memperkuat produksi, TINS juga menjalankan ekspansi pasar global sepanjang 2026. Perseroan memperluas pasar di Asia Tenggara dan Eropa, termasuk membuka pasar baru di Filipina serta memperkuat kehadiran di Inggris, khususnya melalui fasilitas yang berlokasi di Southampton.
Di Vietnam dan India, perusahaan tambang timah pelat merah ini membukukan pertumbuhan volume penjualan, dengan India menjadi salah satu pasar yang mengalami pertumbuhan signifikan. Kontribusi market share India terhadap pasar TINS yang sebelum itu sekitar 5% disebut telah naik ke 12% pada tahun berjalan.
Pertumbuhan pasar India turut didukung ekspansi industri kesehatan publik dan semikonduktor, khususnya di kawasan Noida. Ilhamsyah mencontohkan peningkatan produksi iPhone dari sekitar 33 juta unit berubah menjadi 55 juta unit sebagai salah satu faktor yang berubah menjadi pendorong pertumbuhan permintaan di India.
Sementara itu, TINS juga telah menjajaki pasar Timur Tengah sebelum pecahnya konflik Iran dan Amerika Serikat beberapa bulan lalu. Pasar Timur Tengah tersebut diproyeksikan berubah menjadi salah satu pasar TINS pada 2027, di samping peluang pertumbuhan volume di sejumlah negara Eropa, Jepang, Vietnam, Filipina, dan India.
Sebagai informasi, Hingga semester I-2026, TINS membukukan laba bersih sebesar Rp2,71 triliun, melampaui target laba bersih sepanjang 2026 sebesar Rp1,61 triliun atau telah menyentuh 169% dari target. Capaian tersebut juga telah melampaui target setahun penuh meskipun tahun berjalan baru memasuki paruh pertama.
Kinerja laba tersebut ditopang oleh pendapatan TINS yang menyentuh Rp10,42 triliun pada semester I-2026. Pendapatan tersebut meroket 247% dibandingkan periode serupa tahun sebelum itu sebesar Rp4,22 triliun.
Catatan: aksi korporasi semacam ini perlu dilihat dampaknya terhadap laporan keuangan berikutnya โ apakah menambah kontribusi pendapatan, atau justru menambah beban utang dan bunga.

