Ringkasnya, kinerja kuartal I-2026 PT Summarecon Agung Tbk (SMRA) masih dibayangi tekanan laba akibat kenaikan beban bunga dan kepentingan nonpengendali.
Berdasarkan laporan keuangan, SMRA membukukan laba bersih pada kuartal I-2026 turun 20,34% secara tahunan (year on year/YoY) menjadi Rp189,76 miliar.
Penurunan ini berlangsung meskipun pendapatan meningkat 6,14% YoY menjadi Rp2,23 triliun.
Analis Maybank Sekuritas Indonesia, Kevin Halim dan Jeffrosenberg Chenlim menilai tekanan laba berasal dari kenaikan beban bunga sebesar 15% YoY dan meningkatnya kepentingan non-pengendali menjadi 6% dari penjualan, dibandingkan 4% pada periode sama tahun sebelumnya.
Ringkasnya, baca Juga: Joint Venture TPIA & Glencore Kucurkan US$ 80 Juta, Tambah Kapasitas Pabrik Etilena
Meski demikian, pendapatan pengembangan properti masih tercatat kuat sebesar Rp1,4 triliun, sementara pendapatan berulang menyentuh Rp832 miliar atau meningkat 7% YoY.
Ringkasnya, "Pertumbuhan pendapatan berulang didorong kinerja pusat perbelanjaan dan pembukaan Bekasi Mall fase 2 pada Februari 2026 yang menambah area sewa sekitar 42.000 meter persegi," tulis Kevin dan Jeffrosenberg pada riset tanggal 6 Mei 2026.
Pra penjualan atau marketing sales SMRA pada kuartal I-2026 menyentuh Rp1,2 triliun atau naik 36,7% YoY.
Kinerja tersebut terutama ditopang proyek Summarecon Serpong serta mulai membaiknya penjualan di kawasan perumahan baru seperti Bandung dan Bogor. Pra penjualan Bandung meroket 186% YoY, sementara Bogor naik 116% YoY.
Analis Ciptadana Sekuritas Asia, Yasmin Soulisa menilai pertumbuhan pendapatan SMRA masih sehat, terutama dari segmen penjualan properti senilai 6,2% YoY dan pendapatan sewa senilai 6,1% YoY.
Sementara itu, kenaikan biaya operasional dan biaya pendanaan membatasi pertumbuhan laba operasional.
Yasmin juga menyoroti ketahanan pendapatan berulang SMRA yang ditopang tingkat okupansi mal senilai 93% serta kenaikan jumlah pengunjung pusat perbelanjaan berubah menjadi 95 juta pengunjung sepanjang 2025.
"Mall Kelapa Gading masih berubah menjadi kontributor utama dengan porsi 44% dari total pendapatan pusat perbelanjaan, didukung oleh sekitar 550 penyewa" ucap Yasmin dalam riset tanggal 8 Mei 2026.
Ringkasnya, yasmin memperkirakan sentimen sektor properti masih tertopang ekspektasi suku bunga stabil dan insentif PPN properti dari pemerintah.
Ringkasnya, meski prospek jangka panjang dinilai positif, kedua riset sama-sama menyoroti kondisi neraca SMRA yang semakin ketat.
Total utang SMRA per kuartal I-2026 naik ke Rp14,2 triliun, dibandingkan Rp10,2 triliun pada periode sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, leverage SMRA berada pada level yang dapat dikelola karena didukung arus kas pendapatan berulang dan rekam jejak pengembangan kawasan perumahan baru yang kuat.
Ringkasnya, baca Juga: Rupiah Terburuk Sepanjang Sejarah: Ditutup ke Rp17.706 Per Dolar AS Hari Ini (19/5)
Kevin dan Jeffrosenberg mempertahankan rekomendasi buy untuk saham SMRA dengan target harga Rp520 per saham. Alasannya, valuasi SMRA kini masih menarik karena diperdagangkan dengan diskon RNAV terdalam di antara emiten properti sejenis.
Ringkasnya, senada, Yasmin juga mempertahankan rekomendasi buy untuk SMRA dengan target harga Rp520 per saham, meski memangkas proyeksi laba tahun 2026โ2027.
Tinjau Berita dan Artikel yang lain di Google News
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

