PT Sunindo Pratama Tbk (SUNI) membukukan penurunan kinerja keuangan pada kuartal I 2026. Laba bersih perseroan turun tajam 72,84% menjadi Rp17,91 miliar per 31 Maret 2026. Pada periode serupa tahun sebelum itu, laba SUNI menyentuh Rp65,93 miliar.
Ringkasnya, penurunan laba sejalan dengan turunnya pendapatan. Penjualan neto SUNI tercatat Rp154,91 miliar pada kuartal I 2026. Realisasi ini merosot 50,59% dibandingkan Rp313,53 miliar pada kuartal I 2025.
Kontributor utama pendapatan berasal dari penjualan oil country tubular goods senilai Rp134,59 miliar. Sementara produk wellhead dan christmas tree menyumbang Rp17,03 miliar. Pelanggan terbesar perseroan adalah PT Appipa Indonesia dengan kontribusi 38% dan Grup Pertamina senilai 29%.
Seiring penurunan pendapatan, beban pokok penjualan ikut melemah ke Rp112,85 miliar dari Rp208,62 miliar. Sementara itu, laba bruto tetap tertekan menjadi Rp42,06 miliar dari Rp104,91 miliar pada periode serupa tahun sebelumnya.
Di sisi lain, beban usaha naik tipis menjadi Rp20,79 miliar dari Rp19,62 miliar. Perseroan membukukan pendapatan keuangan sebesar Rp1,01 miliar dan beban keuangan Rp28,23 juta. SUNI juga membukukan keuntungan selisih kurs Rp120,19 juta.
Dari sisi neraca, total aset SUNI per 31 Maret 2026 menyentuh Rp1,12 triliun. Angka ini naik tipis 0,52% dibandingkan posisi akhir 2025 sebesar Rp1,11 triliun. Aset lancar tercatat Rp476,27 miliar dan aset tidak lancar Rp647,92 miliar.
Jumlah liabilitas melemah ke Rp243,17 miliar dari Rp255,25 miliar pada akhir 2025. Liabilitas jangka pendek tercatat Rp92,10 miliar dan jangka panjang Rp151,07 miliar.
Sementara itu, total ekuitas naik ke Rp881,02 miliar dari Rp863,13 miliar. Ekuitas didominasi saldo laba yang belum ditentukan penggunaannya sebesar Rp570,76 miliar.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

