Ringkasnya, emiten Grup Astra PT United Tractors Tbk (UNTR) mengumumkan penurunan laba bersih 80% sepanjang kuartal I-2026. Laba UNTR tertekan dari operasional tambang emas yang sempat berhenti.
Menurut laporan keuangan terbaru, laba UNTR tercatat sebesar Rp643 miliar per 31 Maret 2026. Di tahun sebelumnya, labanya tercatat sebesar Rp3,18 triliun.
Beriringan, pendapatan bersih UNTR tercatat sebesar Rp28,6 triliun. Angka ini turun 17% dari Rp34,3 triliun pada periode serupa di tahun 2025.
Pendapatan bersih tersebut terutama berasal dari Rp11,9 triliun dari segmen Kontraktor Penambangan, yang turun 6% lebih rendah dari periode serupa di tahun. Selain itu, Rp8,0 triliun berasal dari segmen Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi, 13% lebih tinggi dari periode serupa di tahun sebelumnya.
Selain itu, pendapatan juga disokong Rp7,5 triliun dari segmen Mesin Konstruksi, 31% lebih rendah dari periode serupa di tahun sebelumnya. Selain itu, segmen Pertambangan Emas dan Mineral Lainnya tercatat sebesar Rp691,6 miliar, 76% lebih rendah dari periode serupa di tahun sebelumnya. "Penurunan ini terutama disebabkan oleh penurunan signifikan di PT Agincourt Resources karena tidak adanya penjualan emas, serta kinerja yang lebih rendah pada segmen Mesin Konstruksi dan Kontraktor Penambangan sebagai dampak penurunan alokasi RKAB batu bara nasional tahun 2026," sebagaimana dikutip dari keterangan resmi perseroan, Kamis, (30/4/2026).
Diketahui, usaha pertambangan emas Perseroan dioperasikan oleh PT Agincourt Resources dan PT Sumbawa Jutaraya, yang membukukan total penjualan setara emas sebesar 4 ribu ons sampai dengan triwulan pertama tahun 2026,93% lebih rendah dari periode serupa di tahun sebelumnya. Pada bulan Maret 2026, Tambang Emas Martabe telah menerima persetujuan dari Kementerian Lingkungan Hidup (KLH) untuk melanjutkan operasional.
Meski demikian, perseroan menuturkan, penurunan ini sebagian dapat diimbangi oleh peningkatan pendapatan dari sektor Pertambangan Batu Bara Termal dan Metalurgi, terutama disebabkan oleh harga rata-rata batu bara yang lebih tinggi. Laba bersih Perseroan tidak termasuk nonrecurring charges turun 44% menjadi Rp1,8 triliun, terutama karena tidak adanya penjualan emas dari PT Agincourt Resources dan pendapatan yang lebih rendah yang sebagian besar mencerminkan dampak dari penurunan alokasi RKAB batu bara nasional tahun 2026.
Selama kuartal pertama tahun 2026, Perseroan membukukan non-recurring charges bernilai Rp1,2 triliun, terutama terdiri dari pembayaran terkait kegiatan sebelum itu di kawasan hutan, sehubungan dengan Persetujuan Pemanfaatan Kawasan Hutan (PPKH) di tambang nikel Stargate dan provisi penurunan nilai atas investasi panas bumi PT Supreme Energy Rantau Dedap.
Catatan: aksi korporasi semacam ini perlu dilihat dampaknya terhadap laporan keuangan berikutnya โ apakah menambah kontribusi pendapatan, atau justru menambah beban utang dan bunga.

