PT Lancartama Sejati Tbk (TAMA) menderita rugi bersih sebesar Rp3,05 miliar pada kuartal I 2026. Nilai tersebut melonjak 58,82% dibandingkan rugi bersih Rp1,92 miliar pada periode serupa tahun 2025.
Berdasarkan laporan keuangan interim per 31 Maret 2026 yang dipublikasikan pada Senin (6/5/2026), pendapatan TAMA terjungkal 73,35% menjadi Rp1,46 miliar. Pada periode serupa tahun sebelum itu, Perseroan masih membukukan pendapatan sebesar Rp5,50 miliar.
Penurunan tajam tersebut disebabkan merosotnya pendapatan dari proyek konstruksi bangunan. Sepanjang tiga bulan pertama 2026, kontributor utama pendapatan TAMA hanya berasal dari sektor bangunan bernilai Rp1,46 miliar. Sementara itu, pendapatan dari sektor infrastruktur dan sewa bangunan tercatat nihil.
Anjloknya pendapatan membuat Perseroan membukukan rugi usaha senilai Rp847,76 juta. Kondisi ini berbanding terbalik dengan kuartal I 2025 yang masih mencetak laba usaha Rp791,70 juta.
Sejalan dengan penurunan pendapatan, beban pokok pendapatan TAMA melemah ke Rp814,82 juta dari sebelum itu Rp2,86 miliar. Meski demikian, Perseroan masih menanggung beban umum dan administrasi sebesar Rp1,45 miliar. Beban keuangan juga tercatat cukup tinggi menyentuh Rp2,20 miliar.
Dari sisi neraca, total aset Lancartama Sejati menyentuh Rp176,33 miliar per 31 Maret 2026, atau meningkat tipis 0,85% dibanding posisi akhir Desember 2025 sebesar Rp174,85 miliar.
Jumlah liabilitas Perseroan tercatat sebesar Rp144,72 miliar, naik dari Rp140,19 miliar pada akhir tahun sebelumnya. Sementara itu, total ekuitas TAMA menyusut menjadi Rp31,61 miliar dari sebelum itu Rp34,66 miliar per Desember 2025.
Dalam surat pernyataan Direksi, manajemen menekankan tanggung jawab atas laporan keuangan tersebut. Direktur Utama TAMA, Alex Widjaja, menyatakan bahwa laporan keuangan Perseroan telah disusun dan disajikan sesuai standar akuntansi keuangan di Indonesia.
Hingga 31 Maret 2026, struktur pemegang saham TAMA terdiri atas PT Lancartama Tirta Anggara senilai 50%, Kathrin Widjaja 12%, Alex Widjaja 0%, dan masyarakat (publik) sebanyak 37%.
Perseroan kini menjalankan kegiatan usaha utama di bidang jasa konstruksi gedung tempat tinggal, perkantoran, industri, dan pusat perbelanjaan.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

