Ringkasnya, emiten di sektor distribusi farmasi dan alat kesehatan, PT Millennium Pharmacon International Tbk (SDPC) mampu mempertahankan sertifikasi internasional ISO 9001:2015 untuk Sistem Manajemen Mutu dan ISO 37001:2016 untuk Sistem Manajemen Anti Penyuapan.
Pencapaian ini didapat setelah perusahaan melewati proses audit surveilan eksternal yang dilakukan secara independen oleh lembaga sertifikasi internasional. Audit ISO 9001:2015 digelar oleh PT BSI Group Indonesia (BSI), sementara audit ISO 37001:2016 digelar oleh PT TSI Sertifikasi Internasional (TSI).
Ringkasnya, baca Juga: Danantara Mulai Pasarkan Obligasi Dolar AS, Tawarkan Yield Hingga 6,3%
Direktur Utama SDPC Imam Fathorrahman menuturkan pencapaian tersebut juga menjadi modal penting bagi perusahaan dalam memperluas kerja sama strategis dengan principal nasional maupun global, secara bersamaan mendukung pertumbuhan industri kesehatan Indonesia yang berkelanjutan.
“Kepercayaan yang diberikan oleh principal, pelanggan, regulator, dan seluruh pemangku kepentingan adalah aset yang paling berharga bagi perusahaan. Dengan demikian, kami akan terus memastikan bahwa setiap langkah pertumbuhan perusahaan selalu didasarkan pada kualitas, kepatuhan, dan integritas yang berkelanjutan,” kata Imam di Jakarta, Kamis (11/6/2026).
Dari sisi kinerja, Imam memproyeksikan kinerja penjualan SDPC mampu meningkat double digit di tahun 2026. Optimisme tersebut didorong oleh masih besarnya kebutuhan obat dan alat kesehatan di Indonesia yang memerlukan dukungan sistem distribusi.
Imam bilang berdasarkan sejumlah survei di bidang kesehatan, nilai belanja obat nasional diperkirakan menyentuh lebih dari Rp160 triliun. Besarnya pasar tersebut membuka peluang bagi perusahaan distribusi untuk terus memperluas layanan dan meningkatkan kinerja usaha.
"Kita sama-sama sepakat dengan para stakeholder menargetkan (kinerja penjualan) double digit di tahun berjalan dan mudah-mudahan itu bisa tercapai karena kebutuhan yang sangat tinggi," jelasnya.
Ringkasnya, sDPC juga melihat peluang perluasan jaringan distribusi masih sangat besar, seiring dengan upaya perusahaan mempercepat transformasi digital.
"Otomasi maupun kecerdasan buatan berubah menjadi strategi yang juga sedang kita bangun untuk membuat eskalasi strategi yang lebih cepat," ucapnya.
Baca Juga: Harga Emas Antam Turun Rp24.000, Saatnya Akumulasi atau Tunggu Harga Lebih Murah?
SDPC juga sedang membangun gudang pusat terintegrasi baru dengan kapasitas sekitar tiga kali lebih besar dibandingkan fasilitas yang dimiliki kini. Perusahaan mengalokasikan investasi sekitar Rp100 miliar untuk proyek tersebut yang seluruhnya berasal dari dana internal.
Keberadaan gudang baru itu diharapkan dapat memperluas kapasitas distribusi secara bersamaan membuka peluang pengembangan portofolio bisnis. Adapun fasilitas tersebut akan beroperasi penuh pada Juli 2026 mendatang.
"Memang kini kekuatan kita masih di segmen produk ethical, tapi ada potensi di produk OTC dan FMCG serta alat medis. Jadi sangat luas dan semoga kita bisa mengambil portofolio tersebut," tuturnya.
Berdasarkan kinerja kuartal I-2026, SDPC membukukan pendapatan sebesar Rp1,01 triliun atau naik 3,85% yoy dibandingkan Rp980 miliar pada periode serupa tahun sebelum itu. Sementara itu, dari sisi laba bersih, perusahaan membukukan pelemahan tipis sebesar 2,22% yoy menjadi Rp10,10 miliar dari sebelum itu Rp10,33 miliar.
Tinjau Berita dan Artikel yang lain di Google News
Catatan: aksi korporasi semacam ini perlu dilihat dampaknya terhadap laporan keuangan berikutnya — apakah menambah kontribusi pendapatan, atau justru menambah beban utang dan bunga.

