PT Daaz Bara Lestari Tbk (DAAZ) membukukan kinerja pendapatan yang impresif sepanjang tahun buku 2025. Sementara itu, kenaikan beban pokok yang signifikan membuat laba bersih Perseroan justru mengalami penurunan cukup dalam.
Berdasarkan laporan keuangan konsolidasian per 31 Desember 2025 yang dipublikasikan di laman BEI, dikutip Sabtu (23/5/2026), DAAZ membukukan laba bersih sebesar Rp355,62 miliar. Angka ini merosot 41,59% jika dibandingkan perolehan laba bersih tahun 2024 yang menyentuh Rp608,90 miliar.
Padahal, dari sisi top line, DAAZ membukukan pertumbuhan pendapatan yang sangat kuat. Total pendapatan Perseroan meroket 32,38% menjadi Rp13,41 triliun pada 2025. Pada tahun sebelum itu, DAAZ hanya mengantongi pendapatan sebesar Rp10,13 triliun.
Penjualan bahan bakar solar menjadi kontributor utama pendapatan dengan nilai Rp5,01 triliun. Disusul oleh penjualan bijih nikel yang menyumbang Rp4,91 triliun. Sumber pendapatan lainnya berasal dari penjualan batubara sebesar Rp1,49 triliun dan jasa angkutan laut bernilai Rp1,26 triliun. Jasa pertambangan turut berkontribusi sebesar Rp723,60 miliar.
Penurunan laba bersih dipicu oleh membengkaknya beban pokok pendapatan. Pos ini naik lebih tinggi dari pertumbuhan pendapatan, yakni menyentuh Rp12,51 triliun pada 2025. Jumlah tersebut meningkat dari beban pokok tahun 2024 yang sebesar Rp9,10 triliun.
Selain itu, beban usaha juga meningkat ke Rp273,99 miliar dari sebelum itu Rp155,90 miliar. Beban keuangan pun ikut melonjak menjadi Rp201,46 miliar pada 2025, dari posisi tahun 2024 yang sebesar Rp124,34 miliar.
Dari sisi kekuatan neraca, DAAZ menunjukkan pertumbuhan aset yang stabil. Total aset Perseroan per Desember 2025 menyentuh Rp6,34 triliun. Angka ini meningkat 23,54% dari total aset per Desember 2024 yang sebesar Rp5,13 triliun.
Sementara itu, total liabilitas Perseroan tercatat sebesar Rp4,14 triliun per akhir 2025. Jumlah ini naik dari posisi liabilitas tahun 2024 bernilai Rp3,06 triliun. Adapun total ekuitas DAAZ terangkat menjadi Rp2,20 triliun pada akhir 2025, dibanding posisi akhir 2024 yang sebesar Rp2,07 triliun.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

