Perusahaan ekosistem digital, PT Venteny Fortuna International Tbk (VTNY) atau disebut Venteny membukukan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk sebesar Rp2,27 miliar (Rp0,36 per saham) pada kuartal I 2026, terjungkal 68,73% dari Rp7,26 miliar (Rp0,83 per saham) pada kuartal I 2025.
Berdasarkan laporan keuangan per Maret 2026 yang dipublikasikan Senin 25 Mei 2026, pendapatan bersih VTNY merosot senilai 62,88% berubah menjadi Rp30,16 miliar pada kuartal I 2026, dari Rp81,28 miliar pada periode sama 2025.
Penyumbang terbesar penurunan r pendapatan VTNY pada kuartal I 2026 adalah penjualan barang digital yang terjungkal tajam hingga 99,25% menjadi Rp353,645 juta pada kuartal I 2026, dari Rp47,17 miliar pada kuartal I 2025.
Seiring pendapatan, beban pokok pendapatan (BPP) VTNY juga turun sebesar 49,39% dari Rp53,25 miliar pada kuartal I 2025, menjadi Rp26,94 miliar pada kuartal I 2026. Sementara itu, laba kotor Perseroan justru terjungkal 88,53% menjadi Rp3,21 miliar pada kuartal I 2026, dibanding Rp28,02 miliar kuartal I 2025.
Setelah dikurangi beban usaha, emiten ekosistem digital tersebut membukukan rugi usaha sebesar Rp20,35 miliar pada kuartal I 2026. Pada periode serupa tahun 2025, Perseroan masih membukukan laba usaha sebesar Rp5,59 miliar.
Dari sisi neraca keuangan, VTNY memiliki total aset senilai Rp1,75 triliun per Maret 2026, mengalami pelemahan tipis 0,70% dari Rp1,76 triliun per Desember 2025. Jumlah liabilitas dan ekuitas emiten emiten ekosistem digital tersebut per Maret 2026, masing-masing senilai Rp1,34 triliun dan Rp417,29 miliar.
PT Venteny Fortuna International (VTNY) adalah perusahaan induk yang berdiri pada tahun 2021. Perusahaan ini adalah start-up yang berfokus pada kebahagiaan karyawan, dengan meluncurkan ekosistem aplikasi digital, seperti V-nancial (program teknologi finansial), VIP (asuransi dan perlindungan Venteny), V-Nancial Merchant (program keuntungan karyawan), dan V-Academy (program edukasi berbasis teknologi).
Ringkasnya, pada akhir 2022, grup Venteny telah beroperasi di tiga negara, yaitu Filipina, Singapura, dan Indonesia. (konrad)
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

