PT Garuda Indonesia (Persero) Tbk (GIAA) membukukan pertumbuhan pendapatan dua digit dan memangkas rugi bersih sepanjang semester I-2026, meski harga avtur meroket tajam.
Kinerja itu sejalan dengan pemulihan armada perseroan. Hingga Juni 2026, jumlah armada operasional Garuda menyentuh 104 pesawat.
Mengutip laporan keuangan yang dipublikasikan di keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Rabu (30/9/2026), GIAA mengantongi pendapatan USD1,80 miliar sepanjang Januari–Juni 2026. Angka itu mengalami kenaikan 16 persen secara tahunan (year on year/yoy) dari USD1,55 miliar pada semester I-2025.
Penerbangan berjadwal masih berubah menjadi penyumbang terbesar dengan pendapatan USD1,31 miliar, mengalami kenaikan 10,9 persen secara tahunan (year-on-year/yoy. Dari pos ini, pendapatan penumpang mengalami kenaikan 11,5 persen berubah menjadi USD1,23 miliar.
Kenaikan paling tinggi datang dari penerbangan tidak berjadwal, yang meningkat 32,5 persen menjadi USD272,8 juta. Angkutan haji menjadi pendorong utama dengan pendapatan USD232,2 juta, naik 51,6 persendari tahun sebelumnya.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

