PT Arwana Citramulia Tbk (ARNA) membukukan laba tahun berjalan yang berpotensi diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai Rp83,22 miliar (Rp11,84 per saham) pada kuartal I 2026. Hasil ini mengalami pelemahan 20,7% dibandingkan laba tahun berjalan yang berpotensi diatribusikan kepada pemilik entitas induk senilai Rp105 miliar (Rp14,86 per saham) pada kuartal I 2025.
Berdasarkan laporan keuangan ARNA per Maret 2026, dikutip Rabu (29/4/2026), penjualan bersih ARNA terpangkas sekitar 8,53%, yaitu dari Rp690,65 miliar per Maret 2025 berubah menjadi Rp631,75 miliar per Maret 2026.
Seiring penjualan bersih, beban pokok penjualan juga mengalami pelemahan 6,09% dari Rp470,22 miliar berubah menjadi Rp441,57 miliar. Meski begitu, laba kotor ARNA masih terpangkas 13,7% dari Rp220,43 miliar per Maret 2025 berubah menjadi Rp190,18 miliar per Maret 2026.
Setelah dikurangi sejumlah beban, laba usaha ANRA tercatat Rp106,55 miliar per Maret 2026. Hasil ini turun 20,7% dari Rp134,40 miliar per Maret 2025. Perseroan membukukan laba sebelum pajak Rp108,15 miliar, turun 20,3% dari Rp135,69 miliar.
Sementara itu, total aset ARNA mengalami kenaikan 2,08% dari Rp2,88 triliun per 31 Desember 2025 berubah menjadi Rp2,94 triliun per 31 Maret 2026. Total liabilitas ARNA mengalami pelemahan 1,90% dari Rp949,18 miliar berubah menjadi Rp931,15 miliar. Adapun total ekuitas ARNA mengalami kenaikan 4,14% berubah menjadi Rp2,01 triliun per 31 Maret 2026, dari Rp1,93 triliun per 31 Desember 2025.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

