PT Singaraja Putra Tbk. (SINI) berencana menjalankan penambahan modal dengan menyalurkan Hak Memesan Efek Terlebih Dahulu (HMETD) atau penerbitan hmetd. Perseroan berencana menjual sebanyak-banyaknya 721.500.000 saham baru dengan nilai nominal Rp100 per saham.
Manajemen SINI memperkirakan harga pelaksanaan penerbitan hmetd ini sebesar Rp5.000 per saham. Dengan asumsi tersebut, emiten yang bergerak di bidang perladangan dan akomodasi ini berpotensi meraup dana segar hingga Rp3,6 triliun.
Dikutip Sabtu (23/5/2026) WIB, dana hasil aksi korporasi ini diproyeksikan digunakan untuk tiga keperluan utama. Pertama, senilai Rp1,73 triliun dialokasikan untuk mengambil alih 507.380.875 lembar saham atau setara 99,995% saham PT Kemilau Mulia Sakti (KMS) milik PT Petrosea Tbk (PTRO).
Langkah ini adalah bagian dari strategi SINI untuk berekspansi ke industri pertambangan batubara. KMS sendiri adalah perusahaan holding yang memiliki kendali atas entitas anak di bidang pertambangan.
Kedua, sekitar Rp900 miliar akan digunakan untuk pembayaran lebih awal utang perusahaan kepada pihak perbankan. Detailnya, utang kepada BNI sebesar Rp600 miliar yang jatuh tempo pada Agustus dan September 2026, serta utang kepada Bank Mandiri bernilai Rp300 miliar yang jatuh tempo pada September 2026.
Ketiga, sisa dana akan dimanfaatkan untuk keperluan modal kerja perseroan. Amir Antolis, Direktur Utama SINI, menjelaskan rencana pengambilalihan KMS adalah transaksi material karena nilainya menyentuh 110,27% dari total aset perseroan.
โRencana Pengambilalihan KMS adalah suatu transaksi material sebagaimana dimaksud dalam POJK No. 17/2020 dan juga suatu transaksi afiliasi sebagaimana dimaksud dalam POJK No. 42/2020, sementara itu bukan adalah transaksi yang mengandung benturan kepentingan,โ tulis Amir dalam keterbukaan informasi.
Secara performa keuangan, aksi korporasi ini diproyeksikan menyalurkan dampak positif. Berdasarkan asumsi laporan keuangan per 31 Desember 2025, total aset SINI diperkirakan meroket dari Rp1,56 triliun menjadi Rp3,99 triliun setelah penerbitan hmetd.
Ekuitas perseroan juga diproyeksikan membaik secara signifikan dari posisi negatif Rp687,41 miliar berubah menjadi positif Rp1,53 triliun. Rasio liabilitas terhadap aset pun diprediksi mengalami pelemahan dari 1,44 kali berubah menjadi 0,62 kali.
Manajemen optimistis prospek industri batubara masih menjanjikan dalam jangka menengah. Hal ini didorong oleh permintaan global yang masih terjaga, terutama dari negara-negara seperti China dan India yang masih mengandalkan pembangkit listrik tenaga uap.
Untuk memuluskan rencana ini, SINI diproyeksikan menggelar Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 26 Mei 2026. Pemegang saham yang berhak hadir adalah mereka yang tercatat dalam Daftar Pemegang Saham (DPS) pada 30 April 2026.
Bagi pemegang saham yang tidak mengeksekusi haknya dalam penerbitan hmetd ini, persentase kepemilikan saham mereka akan terkena dilusi secara proporsional. SINI menjadwalkan pernyataan pendaftaran efektif dari OJK dapat didapat dalam waktu tidak lebih dari 12 bulan setelah persetujuan RUPS.
Catatan: rights issue berpotensi mengakibatkan dilusi bagi pemegang saham lama yang tidak ikut serta. Perhatikan harga pelaksanaan dan rasio HMETD sebelum memutuskan.

