Ringkasnya, kinerja operasional PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC) yang terus meningkat dinilai memperkuat prospek pertumbuhan perseroan dalam jangka menengah. Untuk itu, MNC Sekuritas dalam riset 15 Juli 2026 mempertahankan rekomendasi buy untuk saham MEDC dengan target harga Rp1.700 per saham, seiring pertumbuhan produksi migas, ekspansi bisnis gas, serta kontribusi sektor ketenagalistrikan yang semakin besar.
Analis MNC Sekuritas Christian Sitorus dalam risetnya mengungkap, peningkatan produksi menjadi faktor utama yang memperkuat visibilitas laba Medco Energi. Pada kuartal I-2026, MEDC membukukan pendapatan sebesar US$ 668 juta atau meningkat 19,2% secara tahunan, didorong kenaikan produksi minyak dan gas (migas) sebesar 18,1% setelah MEDC meningkatkan kepemilikan di Corridor PSC serta mulai berproduksi dari lapangan Forel dan Terubuk.
Segmen kelistrikan juga membukukan pertumbuhan positif dengan penjualan listrik menyentuh sekitar 1.063 GWh, naik 20,8% dibandingkan periode serupa tahun sebelum itu. Kinerja ini didukung peningkatan utilisasi pembangkit serta ekspansi ELB Gas-fired Power Plant.
Baca Juga: Rupiah Masih Perkasa Rp18.077 per Dolar AS pada Siang Hari (15/7)
Laba bersih MEDC meroket menjadi US$ 67 juta atau meningkat 282,3% secara tahunan, terutama berkat kontribusi dari PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN). Sementara itu, margin kotor mengalami tekanan menjadi 34,7% pada kuartal I-2026 dibandingkan 40,9% pada kuartal I-2025 akibat peningkatan basis biaya dari tambahan kepemilikan aset dan fase awal produksi beberapa lapangan baru.
Berdasarkan Christian, tekanan margin tersebut bersifat sementara karena aset baru masih berada dalam tahap peningkatan produksi menuju kapasitas optimal.
MNC Sekuritas melihat prospek MEDC tetap positif seiring pengembangan bisnis gas dan optimalisasi portofolio hulu. Perusahaan ini telah menandatangani perjanjian lepas akumulasi gas dengan PGAS dan Pertamina Patra Niaga untuk memasok 159 triliun British thermal unit (TBTU) gas sepanjang 2027-2037 dengan estimasi nilai kontrak sekitar US$ 1,3 miliar.
Ringkasnya, produksi dari proyek tersebut ditargetkan mulai berjalan pada kuartal III-2027 dengan kapasitas sekitar 80 MMSCFD. Selain itu, perpanjangan kontrak penjualan gas dari Corridor Block hingga 2030 juga memperkuat stabilitas pendapatan perseroan.
Corridor PSC diproyeksikan masih berubah menjadi kontributor utama produksi MEDC sesudah peningkatan participating interest berubah menjadi 70%, yang menambah produksi sekitar 25 ribu barel setara minyak per hari (BOEPD). Sementara itu, proyek Bualuang Phase-1 di Thailand ditargetkan mulai berproduksi pada kuartal II-2026.
MEDC juga memperluas bisnis regional melalui akuisisi 50% participating interest di PSC Cendramas, Malaysia. Akuisisi tersebut dinilai berpotensi memperkuat cadangan dan produksi perseroan dengan memanfaatkan kedekatan infrastruktur serta sinergi operasional di kawasan Laut Natuna Selatan.
Baca Juga: IHSG Mengalami kenaikan 0,47% ke 6.067 di Sesi I, Top Gainers LQ45: ANTM, ESSA, ISAT, Rabu (15/7)
Di luar bisnis migas, MNC Sekuritas menilai diversifikasi MEDC di sektor listrik dan energi terbarukan berubah menjadi faktor pendukung pertumbuhan jangka panjang. Perseroan mengembangkan proyek panas bumi Ijen Phase I berkapasitas 35 MW dan pembangkit surya East Bali Solar PV senilai 25 MWp.
Dengan portofolio pembangkit yang terdiri dari enam gas-fired IPP, dua geothermal IPP, dan dua solar PV IPP, penjualan listrik MEDC diperkirakan menyentuh sekitar 4.550 GWh pada 2026.
MNC Sekuritas memperkirakan harga minyak Brent diproyeksikan berada di rata-rata US$ 75 per barel pada 2026 seiring meredanya tekanan geopolitik dan kondisi pasar energi global yang semakin seimbang.
Produksi MEDC diproyeksikan menyentuh 158 ribu BOEPD pada 2026 dan naik ke 168 ribu BOEPD pada 2027. Kondisi tersebut diperkirakan mendorong pendapatan Medco Energi menjadi US$ 2,67 miliar pada 2026 dan US$ 2,97 miliar pada 2027.
EBITDA diperkirakan naik ke US$ 1,32 miliar pada 2026 dan US$ 1,41 miliar pada 2027, sementara laba bersih diproyeksikan menyentuh US$ 227 juta dan US$ 242 juta.
Christian menilai valuasi saham MEDC kini masih menarik dengan estimasi PER 2026 sebesar 10,7 kali dan PBV 1 kali. Pertumbuhan produksi, ekspansi proyek gas, serta meningkatnya kontribusi bisnis listrik menjadi alasan utama rekomendasi BUY tetap dipertahankan.
Ringkasnya, meski demikian, investor perlu memperhatikan sejumlah risiko, antara lain pelemahan harga komoditas, realisasi penyerapan gas, serta potensi keterlambatan peningkatan produksi proyek baru.
Saham MEDC hingga pukul 13.31 WIB mengalami pelemahan 1,2% di Rp1.235 per saham. Tapi dalam lima hari saham MEDC masih mengalami kenaikan 4,66%.
Tinjau Berita dan Artikel yang lain di Google News
Catatan: aksi korporasi semacam ini perlu dilihat dampaknya terhadap laporan keuangan berikutnya โ apakah menambah kontribusi pendapatan, atau justru menambah beban utang dan bunga.

