Manajemen PT Indah Prakasa Sentosa Tbk (INPS) melaporkan, Graha Inti Guna Persada resmi menjadi pengendali baru Perseroan. Ini seiring tuntasnya akuisisi terhadap 568.613.000 unit atau 87,48% saham INPS.
Graha Inti Guna Persada telah resmi mengambil-alih saham INPS dari tiga pemilik lama, masing-masing adalah PT Surya Perkasa Sentosa, PT Sinar Ratu Sentosa, dan Eddy Purwanto Winata dengan nilai transaksi sebesar Rp50,5 miliar pada tanggal 23 April 2026.
Corporate Secretary INPS Jerry Erfansyah dalam keterangan tertulis yang disampaikan, Jumat 24 April 2026 menuturkan, pengambil-alihan 87,48% saham Perseroan tersebut menyebabkan adanya perubahan pengendalian atas INPS.
Sementara itu, lanjut Jerry, kejadian atau aksi korporasi tersebut tidak berdampak material terhadap kegiatan operasional, hukum, kondisi keuangan, dan kelangsungan usaha Perseroan.
Menurut Jerry, pengendali baru Graha Inti Guna Persada telah menyatakan kesediaannya untuk menjalankan tender wajib atau Mandatory Tender Offer atas pemegang saham minoritas dalam Perseroan. Ini sebagaimana diatur dalam POJK Nomor 9/POJK.04/2028 Tentang Pengambil-alihan Saham Perusahaan Terbuka.
Pada perdagangan di Bursa Efek Indonesia, Jumat 24 April 2026, saham INPS ditutup naik 9,76% menjadi Rp675 per unit, dibanding sehari sebelum itu di Rp615 per unit. Selama periode sepekan, harga saham INPS telah meningkat sebesar 32,35% dari posisi Rp510 per saham menjadi Rp675 per saham.
PT Indah Prakasa Sentosa Tbk (INPS) atau Inprase Logistics & Distribution, mulai beroperasi pada tahun 1960 sebagai perusahaan kecil perdagangan bahan bakar. Pada tahun 1980, perusahaan ini ditunjuk oleh Pertamina menjadi perusahaan pengangkut untuk mendistribusikan bahan bakar dan minyak tanah ke agen.
Kini INPS menawarkan berbagai layanan dan produk, tidak hanya di bidang logistik, tetapi juga di bisnis ritel, termasuk transportasi darat, pergudangan, transportasi laut, ekspedisi, depo peti kemas, dan pelumas. (konrad)
Catatan: aksi korporasi semacam ini perlu dilihat dampaknya terhadap laporan keuangan berikutnya — apakah menambah kontribusi pendapatan, atau justru menambah beban utang dan bunga.
