PT Astra International Tbk (ASII) tercatat membukukan laba bersih senilai Rp5,85 triliun pada kuartal I-2026.
Laba bersih Astra International (ASII) itu lebih rendah 16% dibandingkan dengan periode serupa tahun 2025.
Sejalan dengan itu, pendapatan bersih ASII pada kuartal I-2026 senilai Rp78,7 triliun, mengalami pelemahan 6% dibandingkan dengan kuartal I-2025.
Ringkasnya, “Hal ini disebabkan oleh kinerja yang menurun dari divisi alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi, terutama akibat kontribusi dari bisnis pertambangan emas yang minim, serta volume yang lebih rendah di bisnis alat berat dan bisnis jasa penambangan,” kata Presiden Direktur ASII, Rudy dalam keterangan resmi, Rabu (29/4/2026).
Tercatat laba bersih divisi otomotif dan mobilitas grup meningkat 4% menjadi Rp2,4 triliun dari Rp2,3 triliun pada periode serupa tahun sebelumnya, didukung oleh kinerja bisnis mobilitas dan komponen, meskipun volume penjualan mobil lebih rendah.
Lalu, laba bersih divisi jasa keuangan grup meningkat 6% berubah menjadi Rp2,3 triliun, disebabkan oleh peningkatan kontribusi dari bisnis pembiayaan konsumen dengan nilai portofolio pembiayaan yang meningkat.
Sementara itu, laba bersih divisi alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi turun cukup dalam sebesar 79% menjadi Rp408 miliar.
Sementara, laba bersih divisi agribisnis grup meningkat 35% menjadi Rp298 miliar, terutama didorong oleh peningkatan penjualan minyak kelapa sawit mentah (CPO) dan produk turunannya sebesar 6% menjadi 457.000 ton, dengan harga CPO yang relatif stabil yaitu Rp14.556 per kg.
Kemudian, divisi infrastruktur grup membukukan peningkatan laba bersih sebesar 32% menjadi Rp343 miliar, disebabkan oleh tarif jalan tol yang lebih tinggi dan peningkatan volume lalu lintas. Konsesi jalan tol grup membukukan peningkatan pendapatan harian sebesar 14%.
Lalu, divisi teknologi informasi grup membukukan peningkatan laba bersih sebesar 47% menjadi Rp53 miliar, disebabkan oleh pendapatan yang lebih tinggi dari bisnis solusi teknologi informasi serta peningkatan marjin usaha.
Kemudian, divisi properti grup melaporkan peningkatan laba bersih senilai 145% berubah menjadi Rp115 miliar, terutama berasal dari aset-aset gudang industri yang baru diakuisisi.
Selain itu, pada periode ini, ASII juga membukukan beberapa non-recurring charges dan penyesuaian nilai wajar atas investasi-investasi ekuitas.
Adapun untuk nilai aset bersih per saham ASII pada 31 Maret 2026 mengalami kenaikan senilai 2% berubah menjadi Rp5.810.
Utang bersih, tidak termasuk anak perusahaan jasa keuangan grup, menyentuh Rp1,8 triliun pada 31 Maret 2026, dibandingkan dengan kas bersih Rp7,2 triliun pada 31 Desember 2025, terutama disebabkan oleh akuisisi PT Arafura Surya Alam, perusahaan tambang emas, dan pembelian kembali saham.
Kemudian, utang bersih anak perusahaan jasa keuangan grup menyentuh Rp66 triliun pada 31 Maret 2026, meningkat dibandingkan Rp64,9 triliun pada 31 Desember 2025.
Untuk prospek bisnis ke depan, Rudy menjelaskan kondisi pasar diestimasi masih diproyeksikan menantang di tengah ketegangan geopolitik.
“Kami diproyeksikan terus mengelola tantangan jangka pendek secara cermat dan disiplin, dengan masih fokus dalam menciptakan nilai bagi para pemangku kepentingan,” tambahnya.
Ringkasnya, editor: Erta Darwati
Ringkasnya, follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Ringkasnya, baca Berita Lainnya di Google News
Catatan: aksi korporasi semacam ini perlu dilihat dampaknya terhadap laporan keuangan berikutnya — apakah menambah kontribusi pendapatan, atau justru menambah beban utang dan bunga.

