PT Black Diamond Resources Tbk (COAL) membukukan kinerja kurang memuaskan pada awal tahun 2026. Perseroan mengalami rugi bersih sebesar Rp8,29 miliar pada kuartal I 2026.
Hasil ini berbanding terbalik dengan periode serupa tahun 2025. Saat itu, BDR masih meraup laba bersih bernilai Rp5,39 miliar. Penurunan kinerja ini menyentuh 253% secara tahunan (year on year/yoy).
Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2026 yang dirilis Selasa, 2 Juni 2026, kerugian ini disebabkan oleh tidak adanya pendapatan usaha. Penjualan BDR tercatat Rp0 pada kuartal I 2026. Padahal, pada kuartal I 2025, perseroan mampu mengantongi penjualan senilai Rp126,52 miliar dari komoditas batubara.
Meski tidak ada penjualan, perseroan tetap harus menanggung sejumlah biaya operasional. Beban umum dan administrasi tercatat sebesar Rp4,84 miliar. Angka ini sebenarnya turun dari posisi Rp8,20 miliar pada tahun sebelum itu.
Selain itu, BDR juga memikul beban keuangan sebesar Rp2,87 miliar. Perseroan pun mengalami kerugian selisih kurs bernilai Rp595,29 juta. Kondisi-kondisi tersebut membuat laba per saham dasar jatuh ke angka minus Rp1,32 per saham dari sebelum itu Rp0,86 per saham.
Dilihat dari sisi neraca, kekuatan keuangan BDR masih menunjukkan pertumbuhan aset. Total aset perseroan per 31 Maret 2026 menyentuh Rp824,80 miliar. Jumlah ini naik 2,71% dibandingkan posisi akhir Desember 2025 sebesar Rp803,02 miliar.
Aset lancar perseroan didominasi oleh persediaan batubara bernilai Rp264,99 miliar. Selain itu, terdapat uang muka sebesar Rp40,15 miliar dan piutang usaha pihak ketiga sebesar Rp36,99 miliar. Sementara itu, aset tidak lancar tercatat Rp477,83 miliar yang sebagian besar berupa properti pertambangan bernilai Rp356,06 miliar.
Di sisi lain, total liabilitas BDR melonjak menjadi Rp466,94 miliar per Maret 2026. Angka ini naik dari Rp436,87 miliar pada akhir tahun 2025. Komponen terbesar liabilitas adalah utang bank jangka pendek kepada PT Bank Central Asia Tbk bernilai Rp195 miliar dan utang pajak sebesar Rp55,64 miliar.
Total ekuitas BDR tercatat mengalami penurunan tipis. Per Maret 2026, ekuitas perseroan berada di level Rp357,86 miliar. Sebelum itu, pada Desember 2025, posisi ekuitas masih sebesar Rp366,16 miliar.
Dalam surat pernyataan direksi, Donny Janson Manua, Direktur Utama BDR, menekankan tanggung jawab manajemen atas penyusunan laporan tersebut.
Ringkasnya, โKami bertanggung jawab atas penyusunan dan penyajian laporan keuangan interim Grup. Laporan ini telah disusun dan disajikan sesuai dengan Standar Akuntansi Keuangan di Indonesia,โ tegas Donny.
Donny juga menambahkan bahwa semua informasi dalam laporan tersebut telah dimuat secara lengkap dan benar. Menurutnya, laporan keuangan tersebut tidak mengandung informasi atau fakta material yang tidak benar. Perseroan juga masih bertanggung jawab atas sistem pengendalian internal di dalam Grup
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

