PT Citra Nusantara Gemilang Tbk (CGAS) menyalurkan jawaban komprehensif atas permintaan penjelasan Bursa Efek Indonesia (BEI) terkait rencana penambahan kegiatan usaha gas alam cair (Liquefied Natural Gas/LNG). Perseroan menekankan urgensi penambahan KBLI 35201 ini berkaitan erat dengan target monetisasi gas bumi di Karawang, Jawa Barat.
Ringkasnya, langkah strategis tersebut diambil guna mengoptimalkan alokasi gas dari Kementerian ESDM yang sudah dikantongi sejak Juli 2025.
Manajemen CGAS memaparkan pembangunan fasilitas pendukung proyek LNG kini sudah menyentuh sekitar 70%. Keterlambatan pelaksanaan kegiatan usaha ini berpotensi menyalurkan dampak negatif terhadap rencana operasional dan pengembangan usaha. Proyek ini adalah bagian dari hasil kesepakatan rapat bersama Direktorat Jenderal Migas, SKK Migas, dan Pertamina EP pada Februari 2025.
Ringkasnya, “Perseroan berpotensi kehilangan peluang ekspansi usaha, diversifikasi sumber pendapatan, serta optimalisasi pemanfaatan potensi pasar LNG,” ungkap manajemen CGAS dalam keterbukaan informasi kepada otoritas bursa, Sabtu (23/5/2026).
Berdasarkan data yang disampaikan, LNG diproyeksikan berubah menjadi kontributor pendapatan terbesar bagi Perseroan di masa depan. Keunggulan utama LNG terletak pada efisiensi volume yang menyusut hingga 1/600 dari volume gas awal. Kondisi ini memungkinkan distribusi energi dalam jumlah lebih besar dan jangkauan lebih luas dibandingkan Compressed Natural Gas (CNG).
Terkait kesiapan operasional, Perseroan menargetkan LNG Station mulai beroperasi secara komersial pada kuartal IV-2026. Progres engineering sudah mengenai 79,50% dan procurement menyentuh 66,96%. Dari sisi konstruksi fisik, pengerjaan sipil seperti fondasi pilecap sudah terealisasi 63,97% dan pembangunan pagar proyek menyentuh 87,97%.
Untuk mendanai proyek ini, CGAS telah merealisasikan dana hasil penawaran umum sebesar Rp55,39 miliar. Dana tersebut tercatat dalam akun uang muka pada laporan keuangan per 31 Desember 2025 bernilai Rp76,06 miliar dan naik ke Rp101,66 miliar pada 31 Maret 2026. Perseroan memastikan dana IPO ditempatkan pada rekening terpisah dari rekening operasional agar pengelolaannya terpantau jelas.
Ringkasnya, cGAS juga membeberkan daftar calon pelanggan potensial untuk produk LNG ini. Nama-nama besar seperti PT Yamaha Motor Parts Manufacturing Indonesia, PT Indo Kordsa Tbk, dan PT Nippon Indosari Corpindo Tbk masuk dalam target pasar. Selain itu, terdapat PT Ateja Tritunggal dan PT Bumi Marga Konstruksi yang juga dibidik sebagai pelanggan industri.
Meskipun diproyeksikan menghadapi persaingan dari pemain lama seperti PT Perusahaan Gas Negara Tbk (PGN), Perseroan masih optimistis. CGAS memandang posisinya sebagai pelaku awal (first mover) dalam distribusi LNG di wilayah Karawang dan sekitarnya. Strategi utama untuk memenangkan pasar adalah melalui pendekatan edukatif terkait efisiensi teknologi LNG kepada pelanggan industri.
Perseroan telah menyiapkan rencana penambahan 42 orang tenaga kerja secara bertahap untuk mendukung operasional LNG Station. Kini, satu orang karyawan untuk fungsi keselamatan kerja (HSE) telah direkrut. CGAS menjadwalkan pelaksanaan Rapat Umum Pemegang Saham (RUPS) pada 15 Juni 2026 untuk meresmikan penambahan kegiatan usaha ini.
“Pengembangan bisnis LNG diharapkan berpotensi memperkuat struktur pendapatan melalui peningkatan nilai tambah produk dan perluasan pasar,” tulis manajemen.
Proses perizinan usaha pengolahan gas alam sedang diurus melalui Kementerian ESDM. Perseroan memperkirakan izin tersebut diproyeksikan terbit dalam waktu dua hingga tiga bulan sesudah seluruh persyaratan administratif lengkap. Dengan seluruh persiapan ini, CGAS yakin transformasi bisnis ke sektor hilirisasi LNG diproyeksikan berjalan sesuai rencana yang telah ditetapkan.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

