Ringkasnya, penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Herlina Kartika Dewi
KONTAN.CO.ID โ JAKARTA. PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) mulai memasuki babak baru bisnisnya setelah membukukan ekspor perdana aluminium primer pada Juni 2026. Langkah ini dinilai menjadi tonggak penting dalam transformasi perseroan dari emiten batu bara metalurgi menuju bisnis hilirisasi mineral.
Research Analyst Bumiputera Sekuritas Muhammad Thoriq Fadilla menilai, ekspor tersebut menandai dimulainya monetisasi proyek smelter PT Kalimantan Aluminium Industry (KAI) yang sebelum itu masih dalam tahap commissioning.
โKeberhasilan ekspor menunjukkan transisi menuju operasi komersial berjalan sesuai rencana. Ini mengubah profil ADMR berubah menjadi perusahaan tambang dengan sumber pendapatan dari industri logam hilir,โ katanya kepada Kontan, Senin (13/7/2026).
Baca Juga: BEI Kaji Aturan Harga Pelaksanaan Penerbitan hmetd untuk Papan Akselerasi dan PPK
Ia memperkirakan, dengan asumsi harga aluminium US$2.400 per ton dan kapasitas tahap awal 500.000 ton per tahun, potensi pendapatan kotor bisa menyentuh sekitar US$ 1,2 miliar per tahun, ini melampaui pendapatan ADMR pada 2025.
Dari sisi eksternal, momentum ekspor dinilai cukup menguntungkan. Gangguan pasokan aluminium global mendorong harga dan premi fisik masih tinggi, terutama di Amerika Serikat.
โLingkungan harga kini kondusif bagi produsen aluminium. Sementara itu, manfaat ke kinerja ADMR tahun berjalan masih terbatas karena produksi masih dalam fase ramp-up,โ tambah Thoriq.
Ringkasnya, analis Kiwoom Sekuritas Indonesia Adrian Djie juga melihat ekspor ini sebagai langkah strategis yang memperkuat diversifikasi dan resiliensi pendapatan ADMR.
โSegmen aluminium berpotensi berubah menjadi penopang baru, meski kontribusinya diproyeksikan terefleksi secara bertahap seiring peningkatan kapasitas produksi,โ jelasnya.
Dengan target penjualan 350.000 ton aluminium pada 2026, kontribusi segmen ini dinilai belum akan sepenuhnya menopang pertumbuhan laba dalam jangka pendek. Produksi tahun berjalan diperkirakan masih di bawah kapasitas optimal dan baru akan meningkat signifikan mulai 2027.
Ringkasnya, baca Juga: Harga Emas Diproyeksi Sideways di Kuartal III-2026, Cermati Strategi Buy on Weakness
Kinerja ADMR hingga kuartal I-2026 sendiri masih ditopang bisnis batu bara metalurgi. Perseroan membukukan pendapatan Rp4,5 triliun atau meningkat 35,9% secara tahunan (year-on-year), dengan laba bersih naik 38,1% menjadi Rp1,48 triliun.
Ke depan, analis menilai 2026 masih berubah menjadi periode transisi. Batu bara masih berubah menjadi fondasi kinerja, sementara aluminium mulai berkontribusi sebagai katalis pertumbuhan jangka menengah.
Ringkasnya, meski prospeknya menarik, ada sejumlah risiko yang perlu dicermati. Thoriq menyoroti volatilitas harga komoditas, risiko eksekusi ramp-up smelter, hingga potensi normalisasi harga aluminium jika gangguan pasokan global mereda.
Ringkasnya, selain itu, faktor biaya energi, perubahan regulasi, serta fluktuasi nilai tukar juga berpotensi mempengaruhi margin perseroan.
Dari sisi rekomendasi, Bumiputera Sekuritas menyalurkan rating buy untuk ADMR dengan target harga di kisaran Rp1.500-Rp1.525 per saham dan stop loss di Rp1.380. Sementara itu, Kiwoom Sekuritas merekomendasikan trading buy dengan target harga terdekat Rp1.600 per saham.
Tinjau Berita dan Artikel yang lain di Google News
Catatan: rights issue berpotensi mengakibatkan dilusi bagi pemegang saham lama yang tidak ikut serta. Perhatikan harga pelaksanaan dan rasio HMETD sebelum memutuskan.

