PT Satu Visi Putra Tbk (VISI), emiten produk banner dan bahan advertising yang kini dikendalikan Raffi Ahmad dan Nagita Slavina, membukukan rugi bersih Rp4,17 miliar pada semester I-2026, berbalik dari laba Rp326,10 juta pada periode serupa tahun sebelumnya. Berdasarkan laporan keuangan konsolidasi (tidak diaudit) untuk periode yang berakhir 30 Juni 2026, laba kotor VISI justru meningkat menjadi Rp21,76 miliar dari Rp16,95 miliar tahun sebelumnya, meski penjualan neto turun 11% menjadi Rp139,03 miliar dari Rp156,29 miliar.
Adapun kerugian VISI terbebani pos beban lain-lain yang meroket drastis akibat pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat dan yuan China. Pelemahan kurs ini menggerus nilai utang usaha VISI kepada pemasok luar negeri yang memang didenominasi dalam kedua mata uang tersebut, alhasil tercatat rugi selisih kurs Rp5,99 miliar - meroket dari hanya Rp1,17 miliar pada semester I-2025.
Selain itu, beban umum dan administrasi turut melonjak 63% menjadi Rp11,28 miliar dari Rp6,92 miliar, seiring kenaikan beban gaji dan tunjangan, penyusutan aset, hingga biaya keperluan kantor. Beban pendanaan juga meningkat ke Rp3,91 miliar dari Rp3,41 miliar seiring biaya administrasi kredit terkait pelunasan pinjaman bank.
Di tengah rugi tersebut, neraca keuangan VISI justru terlihat lebih ramping. Total aset perseroan mengalami pelemahan 32,3% berubah menjadi Rp197,31 miliar dari Rp291,57 miliar, sementara total liabilitas ambles 82,2% berubah menjadi Rp19,51 miliar dari Rp109,61 miliar.
Penurunan signifikan ini (di atas 20%) membuat manajemen wajib menyatakan penjelasan resmi ke OJK. Penyebab turunnya neraca VISI adalah divestasi aset tetap berupa tanah dan bangunan bernilai Rp75 miliar kepada PT Inti Megah Putra yang rampung Juni 2026.
Nilai buku aset yang dilepas tercatat Rp74,48 miliar, alhasil perseroan justru meraup laba penjualan aset Rp512,23 juta, sementara itu laba ini tidak cukup menutup rugi selisih kurs yang jauh lebih besar. Dana hasil penjualan aset itu kemudian dipakai untuk melunasi seluruh pinjaman Bank BCA, baik di induk usaha maupun anak usaha PT Polymer Putra Sejahtera, dengan total pelunasan Rp74,19 miliar.
Alhasil, utang bank jangka pendek menyusut dari Rp56,99 miliar menjadi nihil, utang bank jangka panjang Rp17,95 miliar juga lunas, dan rasio utang terhadap ekuitas membaik dari 0,60 kali menjadi 0,11 kali. "Dana yang didapat dari penjualan aset tanah dan bangunan ini sebagian besar digunakan untuk melunasi utang pinjaman bank alhasil ke depannya perseroan tidak kembali dikenakan biaya bunga pinjaman yang cukup tinggi, dan semakin efisien dalam menjalankan roda bisnis di masa depan," demikian keterangan resmi Rieffa Nur Rochma, Corporate Secretary PT Satu Visi Putra Tbk.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

