Ringkasnya, xLSmart Telecom Sejahtera ($EXCL) telah merilis kinerja keuangan periode 2Q26/1H26 dan mengadakan earnings call pada Rabu (12/8). Berikut beberapa catatan penting dari kami:
XLSmart Telecom Sejahtera membukukan rugi bersih Rp277 M pada 2Q26 (vs. 2Q25: rugi bersih Rp1,6 T, 1Q26: rugi bersih Rp717 M), alhasil rugi bersih selama 1H26 menyentuh Rp994 M (vs. 1H25: rugi bersih ~Rp1,2 T). Sementara itu, laba bersih ternormalisasi (normalized net profit) EXCL pada 2Q26 menyentuh ~Rp1,3 T (vs. 2Q25: Rp305 M, 1Q26: ~Rp1,4 T), alhasil laba bersih ternormalisasi selama 1H26 menyentuh Rp2,7 T (vs. 1H25: Rp693 M).
Laba bersih ternormalisasi tersebut mengecualikan dampak biaya integrasi dan percepatan depresiasi pasca–merger serta impairment aset. Secara operasional, EBITDA pada 2Q26 meningkat ke ~Rp5,5 T (+24% YoY, +3% QoQ), seiring pertumbuhan pendapatan menjadi ~Rp12,1 T (+16% YoY, +3% QoQ), alhasil EBITDA selama 1H26 naik +25% YoY menjadi ~Rp11 T dengan margin EBITDA relatif stabil di level 45,7%.
Pendapatan pasca–merger pada 2Q26 meningkat ke ~Rp12,2 T (+16% YoY, +3% QoQ), alhasil pendapatan selama 1H26 meningkat ke ~Rp24 T (+26% YoY) dan setara dengan 52% estimasi 2026F konsensus. Pertumbuhan pendapatan pada 2Q26 didukung oleh pertumbuhan average revenue per user (ARPU) secara tahunan ke level Rp46,9 ribu (+32% YoY, -0,8% QoQ), meski sedikit turun secara kuartalan.
Dalam earnings call, manajemen EXCL menjelaskan bahwa penurunan ARPU secara kuartalan disebabkan oleh penyesuaian terhadap daya akumulasi pelanggan setelah periode Lebaran. Meski demikian, manajemen menilai tren ARPU dalam jangka panjang masih positif.
Sementara itu, jumlah pelanggan pada 2Q26 mulai stabil secara kuartalan di level 69,4 juta (-16% YoY, 0% QoQ), sesudah mengalami penurunan secara kuartalan sejak merger dilakukan pada 2Q25 akibat perbaikan kualitas basis pelanggan.
Rugi bersih pada 2Q26 masih dipengaruhi oleh biaya integrasi dan beban percepatan depresiasi pasca–merger. Secara kuartalan, biaya integrasi dan beban percepatan depresiasi mulai menurun, dengan biaya integrasi melemah ke Rp39 M (vs. rata–rata 3 kuartal terakhir: ~Rp500 M), sementara beban percepatan depresiasi melemah ke Rp1,6 T (vs. rata–rata 3 kuartal terakhir: ~Rp2 T).
Dalam earnings call, manajemen EXCL menuturkan bahwa total beban percepatan depresiasi pada 2026 diperkirakan menyentuh Rp4,5–5 T, dengan Rp3,7 T telah dibukukan selama 1H26.
Secara keseluruhan, kami menilai kinerja EXCL pada 2Q26 menunjukkan hasil yang positif, didukung oleh pertumbuhan pendapatan, stabilnya ARPU dan jumlah pelanggan, serta mulai meredanya beban terkait proses integrasi. Ke depan, stabilnya basis pelanggan dan tren kenaikan ARPU — ditambah berkurangnya beban integrasi dan percepatan depresiasi — diproyeksikan berubah menjadi pendorong utama peningkatan laba.
Ringkasnya, dengan tren rugi bersih yang semakin mengecil secara kuartalan, kami menilai terdapat peluang bagi EXCL untuk membukukan rugi bersih selama 2026 yang lebih rendah dari ekspektasi konsensus 2026F yang memperkirakan rugi bersih ~Rp1,8 T.
Manajemen EXCL juga menaikkan guidance capex 2026 dari Rp15 T menjadi Rp20 T untuk mengakomodasi akuisisi spektrum terbaru dan percepatan realisasi capex yang sebelum itu direncanakan untuk tahun mendatang. Dengan kombinasi tersebut, kami menilai EXCL memiliki peluang yang baik untuk menyentuh guidance 2026, dengan pertumbuhan pendapatan ditargetkan sejalan dengan pasar dan margin EBITDA di level mid–to–high 40%.
Ringkasnya, “Fokuslah pada fase bisnis yang sedang berjalan dan kondisi makro yang melingkupinya. Sesuaikan strategi setiap kali ada perubahan, baik itu perubahan strategi manajemen maupun perubahan siklus ekonomi.” — klinikporto
Setiap kode saham di bursa menyimpan "karakter" bisnis yang unik. Ada perusahaan yang keuntungannya naik-turun mengikuti siklus ekonomi, ada yang meningkat raksasa melalui ekspansi tanpa henti, dan ada juga yang kinerjanya kokoh tapi harganya kerap sedang "diskon" karena dilupakan pasar.
Stockbitor klinikporto menuliskannya berubah menjadi tiga karakter saham yaitu saham Siklikal, Growth (Pertumbuhan), dan Value (Nilai). Uniknya, karakter ini tidak paten selamanya.
Ringkasnya, profil sebuah emiten bisa bergeser seiring arah kebijakan manajemen yang baru atau dinamika ekonomi. Masing-masing karakter saham juga memiliki aspek berbeda yang perlu diperhatikan.
Ringkasnya, supaya tidak salah fokus, jangan lupa baca tulisan Stockbitor klinikporto yang mengupas tuntas setiap karakternya dan aspek yang perlu diperhatikan!
Ringkasnya, pT Stockbit Karya Indonesia
Catatan: aksi korporasi semacam ini perlu dilihat dampaknya terhadap laporan keuangan berikutnya — apakah menambah kontribusi pendapatan, atau justru menambah beban utang dan bunga.

