PT Harum Energy Tbk (HRUM) semakin agresif mengembangkan bisnis nikel seiring alokasi belanja modal (capital expenditure/capex) senilai US$310 juta pada 2026.
Senior Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia Sukarno Alatas menuturkan, langkah ini mencerminkan pergeseran strategi perseroan dari batu bara ke bisnis mineral berbasis baterai.
Ringkasnya, โStrategi HRUM yang mengalokasikan capex sekitar US$310 juta di 2026 dengan fokus besar ke nikel menunjukkan pergeseran tegas dari batu bara ke bisnis mineral baterai,โ ujarnya kepada Kontan, Jumat (5/6/2026).
Ringkasnya, menurutnya, dengan realisasi capex yang juga dominan ke nikel hingga kuartal I-2026, perseroan semakin menjadikan komoditas tersebut sebagai motor pertumbuhan utama, sementara batu bara mulai berperan sebagai penopang.
Ringkasnya, baca Juga: Tekanan Pasar Keuangan Belum Selesai, Pinnacle Jaga Fleksibilitas Portofolio
Sukarno bilang, ekspansi nikel berpotensi berubah menjadi pendorong utama kinerja HRUM pada 2026 hingga 2027, terutama jika proyek hilirisasi dan pengolahan berjalan optimal.
โKenaikan produksi bijih nikel ke 8 juta hingga 10 juta wmt bisa meningkatkan skala pendapatan, sementara itu kontribusi laba sangat bergantung pada efisiensi operasional dan integrasi downstream,โ jelasnya.
Ringkasnya, meski demikian, ia mengingatkan bahwa agresivitas ekspansi tersebut berpotensi menekan margin dalam jangka pendek. Hal ini disebabkan oleh tingginya biaya ekspansi, beban depresiasi, serta potensi peningkatan biaya pendanaan.
Dari sisi risiko, volatilitas harga nikel dan dinamika siklus kendaraan listrik (electric vehicle/EV) global berubah menjadi faktor utama yang perlu dicermati. Selain itu, eksekusi proyek juga berubah menjadi kunci keberhasilan strategi ini.
Di sisi lain, target penurunan produksi batu bara berubah menjadi 2 juta-3 juta ton dinilai berpotensi mengurangi stabilitas arus kas dalam jangka pendek.
โPenurunan produksi batu bara juga mengurangi stabilitas cash flow jangka pendek alhasil profit menjadi lebih fluktuatif,โ tambahnya.
Secara keseluruhan, Sukarno menilai HRUM sebagai saham dengan prospek pertumbuhan tinggi sementara itu disertai risiko yang juga besar dan bersifat siklikal.
Ia pun menyalurkan rekomendasi buy untuk saham HRUM dengan target harga di level Rp900 per saham.
Tinjau Berita dan Artikel yang lain di Google News
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

