PT Karya Pacific Energy Tbk (IATA) menekankan, fundamental operasional bisnis pertambangan batu bara perseroan tetap berjalan efisien dan solid di tengah tekanan kinerja keuangan pada semester I-2026. Manajemen optimistis kinerja perusahaan akan dalam waktu dekat pulih seiring dengan proses pengajuan revisi Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) yang sedang bergulir.
Direktur Utama IATA Suryo Eko Hadianto menuturkan, penurunan laba bersih pada paruh pertama tahun berjalan tidak terlepas dari dinamika industri pertambangan secara nasional, khususnya keterbatasan kuota produksi dari pemerintah. Meski demikian, perseroan berhasil menjaga pos beban biaya produksi (cost per ton) tetap terkendali dengan baik di tengah tren harga lepas yang membaik.
"Memang kondisi dalam laporan keuangan kemarin secara bottom line kelihatan mengalami pelemahan. Tetapi kalau diperhatikan cost per ton kita masih bisa memaintain dengan baik.
Dari harga juga cukup bagus, harga membaik tahun berjalan. Hanya kita punya permasalahan yang ini tidak hanya karya pasifik energi yang mengalami.
Ringkasnya, mungkin hampir 80 persen perusahaan tambang batu bara di semester I kemarin di Indonesia semuanya mengalami," ujar Suryo dalam Press Conference Launching Logo IATA di Jakarta, Senin (10/8/2026).
Untuk mengakselerasi pemulihan bisnis, emiten yang sebelum itu bernama PT MNC Energy Investment Tbk ini tengah aktif memproses revisi kuota produksi dalam RKAB pertengahan tahun berjalan.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

