Ringkasnya, JAKARTA, investor.id - PT Kimia Farma Tbk (KAEF) masih menunggu arahan lebih lanjut dari PT Bio Farma (Persero) terkait rencana deholdingisasi yang tengah disiapkan dalam transformasi besar Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara Indonesia.
Meski demikian, perseroan mulai menjalankan kajian internal untuk merampingkan struktur usaha dan mengurangi jumlah entitas anak sebagai bagian dari program streamlining BUMN.
Direktur Utama Kimia Farma Djagad Prakasa Dwialam menekankan bahwa inisiatif deholdingisasi bukan berasal dari Kimia Farma, melainkan adalah kebijakan yang tengah dirumuskan oleh pemegang saham dan induk usaha.
“Memang benar inisiatifnya disebut deholdingisasi. Itu sudah menjadi konsumsi publik. Sementara itu terkait pelaksanaannya, kami masih menunggu dari Bio Farma karena kami di sini sebagai objek. Bukan kami yang berinisiatif, tetapi Bio Farma yang akan menentukan apakah dilakukan tahun berjalan atau tahun depan,” ujar Djagad dalam paparan publik di Jakarta, Rabu (13/5/2026).
Menurut dia, kini Danantara telah meminta seluruh BUMN untuk meninjau kembali struktur organisasi dan portofolio usaha masing-masing guna meningkatkan efisiensi serta mempercepat transformasi korporasi.
Djagad menjelaskan, salah satu agenda utama yang sedang berjalan adalah penyederhanaan struktur perusahaan melalui pengurangan jumlah anak usaha. Langkah tersebut sejalan dengan program restrukturisasi BUMN yang ditargetkan memangkas jumlah perusahaan pelat merah dari sekitar 1.070 entitas berubah menjadi hanya sekitar 240-250 entitas.
“Kalau streamlining atau pengurangan jumlah anak usaha, kami sedang berproses. Kini sedang dilakukan pengkajian terhadap struktur organisasi kami untuk menentukan entitas mana yang akan dilakukan streamlining,” kata dia.
Meski demikian, Djagad menekankan bahwa implementasi deholdingisasi tetap menunggu keputusan resmi dari Bio Farma dan Danantara. Perseroan kini fokus mempersiapkan berbagai skenario transformasi yang mungkin dijalankan ke depan.
Sebelum itu, Chief Operating Officer (COO) Danantara Indonesia Dony Oskaria menerangkan bahwa struktur holding farmasi BUMN akan mengalami perubahan signifikan. Dalam skema baru yang sedang disusun, Kimia Farma tidak kembali berada di bawah kendali Bio Farma dan akan ditempatkan langsung di bawah Danantara.
”Bio Farma tidak kembali menjadi holding bagi Kimia Farma dan Kimia Farma Apotek. Kimia Farma direct berada di bawah Danantara. Kimia Farma Apotek juga kami cermati untuk independen,” ujar Dony.
Menurut Dony, langkah tersebut dilakukan untuk memperjelas fokus bisnis masing-masing entitas. Bio Farma akan difokuskan sebagai pusat riset dan pengembangan vaksin, Kimia Farma tetap berperan sebagai produsen obat, sementara PT Kimia Farma Apotek diarahkan untuk memperkuat bisnis ritel farmasi.
Restrukturisasi tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan daya saing industri farmasi nasional, memperkuat efisiensi operasional, secara bersamaan mendukung upaya pemerintah menurunkan harga obat bagi masyarakat.
Danantara menilai spesialisasi bisnis berubah menjadi kunci agar setiap BUMN farmasi berpotensi berkembang lebih optimal, termasuk dalam pengembangan teknologi kesehatan dan inovasi produk. Dengan model organisasi yang lebih ramping dan fokus, kinerja operasional serta profitabilitas perusahaan diharapkan meningkat dalam jangka panjang.
Bagi Kimia Farma, proses transformasi tersebut berubah menjadi bagian penting dalam upaya memperkuat fundamental bisnis di tengah tantangan industri farmasi nasional yang semakin kompetitif. Perseroan kini menunggu keputusan final terkait deholdingisasi sembari melanjutkan evaluasi internal terhadap struktur grup usaha yang dimiliki.
Ringkasnya, editor: Theresa Sandra Desfika
Ringkasnya, follow Channel Telegram Official kami untuk update artikel-artikel investor.id
Ringkasnya, baca Berita Lainnya di Google News
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

