Kinerja keuangan PT Wicaksana Overseas International Tbk (WICO) belum membaik, setidaknya hingga akhir tahun 2025. WICO masih menelan kerugian senilai Rp68,38 miliar pada 2025, mengalami pelemahan 57,38% dari rugi Rp150,46 miliar tahun 2024.
Upaya perbaikan kinerja oleh manajemen Perseroan belum membuahkan hasil yang signifikan hingga akhir tahun sebelumnya. Bahkan Perseroan masih membukukan ekuitas negatif atau defisiensi modal.
Kerugian WICO, menurut laporan keuangan per 31 Desember 2025 yang disampaikan ke BEI, Kamis 14 Mei 2026, disebabkan antara lain, oleh penjualan bersih yang terjungkal 95,55% jadi Rp584,92 miliar, dari Rp1,31 triliun pada 2024.
Manajemen Perseroan berhasil menekan mengalami pelemahan beban pokok penjualan senilai 55,91% jadi Rp512,33 miliar, dari Rp1,16 triliun pada 2024. Diproyeksikan tetapi, laba kotor WICO mengalami pelemahan 52,599% jadi Rp72,59 miliar pada 2025 dari Rp260,02 miliar di 2024.
Di sisi lain, beban penjualan 69,89% berubah menjadi Rp23,37 miliar, dari Rp77,65 miliar pada 2024. Begitu juga dengan beban umum dan administrasi WICO yang mengalami pelemahan 45,01% jadi Rp124,58 miliar pada 2025, dari Rp226,59 miliar pada tahun 2024.
Rugi usaha WICO mengalami pelemahan 67,36% berubah menjadi Rp48,23 miliar pada 2025 jika dibandingkan Rp147,79 miliar pada tahun 2024. Rugi sebelum pajak WICO juga mengalami pelemahan 58,62% jadi Rp66,38 miliar pada 2025, dibanding Rp160,46 miliar di 2024.
Total asset WICO pada 2025 sebesar Rp127,029 miliar, turun 45,45% dari Rp232,89 miliar tahun 2024. Jumlah liabilitas WICO, sebesar Rp346,96 miliar pada 2025. Ini terdiri atas liabilitas jangka pendek Rp86,65 miliar dan liabilitas jangka panjang Rp260,10 miliar. Perseroan membukukan ekuitas negatif atau defisiensi modal Rp-219,93 miliar pada 2025, naik 43,49% dari Rp-163,27 miliar pada 2024.
Sekedar informasi, pada Oktober 2025, Manajemen Wicaksana Overseas International (WICO) telah menutup operasional Business Line Consumer Goods (CG) atau lini bisnis consumer goods Perseroan. Alasan dan pertimbangan Perseroan menutup operasional Business Line Consumer Goods (CG) karena lini bisnis tersebut dalam beberapa tahun terakhir terus membukukan kerugian.
Berikutnya, Perseroan lebih memfokuskan pengembangan sumber daya pada Business Line Healthcare (HEC). Pasalnya, lini usaha tersebut dinilai lebih berkelanjutan serta memiliki potensi pertumbuhan yang lebih baik. (konrad)
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

