PT Supreme Cable Manufacturing & Commerce Tbk (SCCO) atau Sucaco membukukan laba neto sebesar Rp92,62 miliar pada kuartal I 2026. Perolehan ini turun tipis 0,46% dibanding periode serupa tahun 2025 sebesar Rp93,04 miliar.
Berdasarkan laporan keuangan per 31 Maret 2026 yang dirilis Selasa (28/4), laba per saham dasar masih di level Rp113. Kinerja ini tercapai di tengah penurunan tipis pendapatan.
Pendapatan SCCO tercatat Rp1,96 triliun pada tiga bulan pertama 2026. Angka ini mengalami pelemahan 1,34% dari Rp1,99 triliun pada kuartal I 2025. Penjualan kabel berubah menjadi kontributor utama dengan nilai Rp1,83 triliun. Sementara penjualan produk insulation senilai Rp130,26 miliar.
Sejalan dengan penurunan pendapatan, beban pokok pendapatan melemah ke Rp1,80 triliun dari Rp1,81 triliun. Sementara itu laba bruto terkoreksi 9,51% menjadi Rp156,52 miliar dari Rp172,97 miliar.
Pada sisi beban usaha, beban penjualan dan pemasaran meningkat ke Rp32,50 miliar dari Rp24 miliar. Di sisi lain, beban umum dan administrasi melemah ke Rp36,67 miliar dari Rp39,38 miliar.
Kinerja laba SCCO ditopang oleh bagian neto laba entitas asosiasi, yakni PT Tembaga Mulia Semanan Tbk (TBMS). Pos ini meningkat tajam menjadi Rp20,67 miliar dari Rp5,09 miliar pada periode serupa tahun sebelum itu. Perseroan juga membukukan penghasilan keuangan sebesar Rp3,97 miliar.
Hingga akhir Maret 2026, total aset SCCO menyentuh Rp6,07 triliun. Angka ini naik 3,23% dari posisi Desember 2025 sebesar Rp5,88 triliun. Kenaikan aset didorong oleh pertumbuhan kas dan setara kas yang menyentuh Rp1,46 triliun.
Total liabilitas tercatat Rp361,63 miliar pada Maret 2026, meningkat dari Rp258,29 miliar pada akhir 2025. Kenaikan ini dipicu oleh bertambahnya utang usaha kepada pihak berelasi sebesar Rp133,31 miliar. Adapun total ekuitas Perseroan menyentuh Rp5,71 triliun.
Manajemen menekankan komitmen terhadap transparansi laporan keuangan.
Ringkasnya, sCCO mengoperasikan pabrik di Jalan Daan Mogot, Jakarta, serta di Bekasi dan Tangerang. Pemegang saham mayoritas Perseroan adalah PT Moda Sukma dan PT Tutulan Sukma, dengan Elly Soepono sebagai penerima manfaat terakhir.
Catatan: artikel ini merupakan rangkuman dari keterbukaan informasi. Selalu verifikasi angka dan tanggal dengan sumber resmi (IDX atau laporan keuangan perseroan) sebelum mengambil keputusan investasi.

