PT Pertamina Geothermal Energy Tbk ((PGEO) terus mengoptimalkan pengembangan panas bumi di Sumatra.Dalam aksi korporasi terbaru, PGEO menjalankan tajak (spud-in) sumur eksplorasi pertama untuk proyek pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) Lumut Balai Unit 3.
Momentum ini menjadi tonggak penting dalam upaya PGEO mengakselerasi transisi energi bersih secara bersamaan memperkuat ketahanan energi nasional menjelang peringatan 100 tahun pengembangan panas bumi di Indonesia. Kegiatan tajak turut dihadir oleh Pjs GM Area Lumut Balai Bayu Febriandana dan Project Manager Lumut Balai Unit 3&4 Heri Susanto.
Direktur Utama PGEO Ahmad Yani dalam keterangan, Jumat 10 Juli 2026 menuturkan, pengembangan Lumut Balai Unit 3 adalah komitmen Perseroan dalam menjawab tantangan kebutuhan energi masa depan, khususnya untuk wilayah Sumatra. Sebagai world leading geothermal producer, PGE memahami bahwa ketahanan energi nasional memerlukan pasokan listrik yang tidak hanya bersih, tetapi juga stabil dan andal.
Berdasarkan Yani, di tengah dinamika energi global, panas bumi hadir sebagai sumber energi baseload lokal yang mampu menjawab kebutuhan tersebut. โTajak sumur pertama PLTP Lumut Balai Unit 3 ini berubah menjadi langkah konkret kami dalam menghadirkan energi yang bersih dan tangguh demi menopang pertumbuhan ekonomi nasional, โujar Ahmad Yani. Tajak perdana PLTP Lumut Balai Unit 3 dilakukan di sumur LMB 19-3 yang berlokasi di Desa Babatan, Kecamatan Semende Darat Ulu menggunakan rig GDAP#123.
Dengan target kedalaman 2.500 meter, papar Yani, pengeboran ini diestimasi rampung dalam 44 hari. Seluruh rangkaian kegiatan eksplorasi sumur hingga pembangunan PLTP dijalankan dengan kepatuhan ketat terhadap standar teknis, operasional, serta aspek Health, Safety, Security, and Environment (HSSE).
Terletak di kaki Bukit Lumut Balai, Muara Enim, Sumatra Selatan, PLTP Lumut Balai Unit 3 adalah kelanjutan dari dua proyek strategis PGE di Wilayah Kerja Panas Bumi (WKP) Lumut Balai dan Margabayur.
Sebelum itu,demikian Yani, PGEO telah mengoperasikan Unit 1 yang diresmikan pada September 2019 dan Unit 2 pada Juni 2025, dengan total kapasitas gabungan sebesar 2ร55 megawatt (MW). Dengan target operasional pada tahun 2030, PLTP Lumut Balai Unit 3 akan menambah 55 MW pasokan listrik bersih, yang akan semakin memperkuat sistem kelistrikan di wilayah Muara Enim dan Sumatra Selatan.
Mnurut Yani, Proyek PLTP Lumut Balai Unit 3 adalah bagian dari roadmap jangka panjang PGE untuk menyentuh total potensi kapasitas panas bumi sebesar 3 gigawatt (GW), secara bersamaan selaras dengan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) 2025 โ 2034. Bersama dengan proyek PLTP Lumut Balai Unit 4 yang juga telah dimulai pengembangannya April lalu, kepercayaan pasar terhadap kedua proyek ini semakin diperkuat pada Juni lalu, di mana PLTP Lumut Balai Unit 3 dan 4 telah resmi masuk kedalam Green Book 2026 yang diterbitkan Kementerian PPN/Bappenas.
Hal ini membuka akses pendanaan melalui potensi pinjaman luar negeri bernilai US$158,86 juta untuk mengakselerasi pengembangan proyek Lumut Balai Unit 3, dan US$148,97 juta untuk proyek Lumut Balai Unit 4. Kini, PGE telah mengelola kapasitas terpasang sebesar 727 MW di enam wilayah operasi.
Ringkasnya, selain PLTP Lumut Balai Unit 3, lanjut Yani, PGEO juga tengah agresif menggarap sejumlah proyek strategis lainnya, antara lain PLTP Lumut Balai Unit 4 (55 MW), PLTP Lahendong Unit 7 & 8 (50 MW), PLTP Hululais Unit 1 dan 2 (110 MW), eksplorasi Gunung Tiga, serta beberapa proyek co-generation bekerja sama dengan PLN Indonesia Power dengan total kapasitas 230 MW. Melalui portofolio yang solid dan ekspansi yang terukur, PGE terus memantapkan posisinya di garda terdepan dalam memperkuat kapasitas domestik, menjaga kedaulatan energi, dan memimpin transisi menuju masa depan Indonesia yang berkelanjutan.
Catatan: aksi korporasi semacam ini perlu dilihat dampaknya terhadap laporan keuangan berikutnya โ apakah menambah kontribusi pendapatan, atau justru menambah beban utang dan bunga.

