Ringkasnya, penulis: Muhammad Alief Andri | Editor: Ignatia Maria Sri Sayekti
Ringkasnya, kONTAN.CO.ID - JAKARTA. Prospek kinerja PT Astra International Tbk (ASII) hingga akhir 2026 dinilai masih cukup positif, seiring pemulihan pasar otomotif nasional pada semester I-2026.
Berdasarkan data, penjualan mobil Astra meningkat 10% secara tahunan (year-on-year/YoY) menjadi 222.371 unit pada semester I-2026. Capaian ini sejalan dengan pemulihan pasar otomotif nasional yang meningkat 16% YoY menjadi 436.567 unit. Pangsa pasar Astra pun menembus level 50%.
Head of Research KISI Sekuritas, Muhammad Wafi menilai, prospek ASII masih cukup optimistis, meskipun pertumbuhan perseroan masih di bawah industri pada paruh pertama tahun berjalan.
“Industri otomotif meningkat 16% di semester I, sementara ASII naik 10% YoY. Sementara itu, pangsa pasar Astra akhirnya menembus 50%,” ujarnya kepada Kontan, Selasa (14/7/2026).
Baca Juga: Astra (ASII) Fokus pada Tiga Segmen Bisnis, Berikut Prospek Kuartal II-2026
Ringkasnya, meski demikian, ia mengingatkan bahwa semester II-2026 berpotensi lebih menantang.
“Semester II akan lebih menantang karena adanya high base effect serta daya akumulasi yang masih tertekan di tengah suku bunga acuan BI di level 5,75%,” tambahnya.
Wafi juga menilai capaian pangsa pasar di atas 50% memiliki dua sisi. Di satu sisi, kondisi ini membuat Astra diuntungkan saat industri meningkat. Sementara itu di sisi lain, mempertahankan dominasi di tengah persaingan ketat dapat menekan margin.
Ringkasnya, “Mempertahankan market share di pasar yang semakin kompetitif membutuhkan pricing discipline yang berpotensi menekan margin per unit,” jelasnya.
Dari sisi pendorong kinerja, Wafi melihat ada tiga faktor utama yang berpotensi menopang pertumbuhan pada semester II-2026. Pertama, program bunga rendah melalui layanan pembiayaan Toyota dan Daihatsu. Kedua, peluncuran model baru. Ketiga, diversifikasi bisnis non-otomotif seperti alat berat, agribisnis, dan infrastruktur.
Sementara itu, ia juga menyoroti sejumlah risiko yang perlu diwaspadai, antara lain tekanan daya akumulasi, suku bunga tinggi, serta pelemahan nilai tukar rupiah yang dapat meningkatkan biaya impor.
“Selain itu, disrupsi kendaraan listrik di segmen entry-level juga berubah menjadi tantangan tersendiri,” katanya.
Sejalan, Analis Fundamental BRI Danareksa Sekuritas Abida Massi Armand menilai, pemulihan pasar otomotif berubah menjadi fondasi kuat bagi kinerja ASII ke depan.
Baca Juga: Astra (ASII) Fokus pada Tiga Segmen Bisnis, Berikut Prospek Kuartal II-2026
Ringkasnya, menurutnya, tiga lini bisnis utama Astra, yaitu otomotif, jasa keuangan, serta alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi (HEMCE), menyumbang sekitar 90% laba grup.
“Proyeksi pertumbuhan laba per saham (EPS) senilai 28,4% untuk periode 2026-2028 mencerminkan momentum yang kuat,” jelasnya.
Ringkasnya, abida menambahkan, pencapaian pangsa pasar 50% tidak hanya berdampak pada penjualan kendaraan baru, tetapi juga membuka peluang ekspansi ke bisnis aftersales, suku cadang, hingga mobil bekas.
“Diversifikasi ini akan memperkuat kualitas laba secara struktural karena menyalurkan pendapatan berulang yang lebih stabil,” ujarnya.
Untuk semester II-2026, ia melihat sejumlah katalis positif, seperti kelanjutan pemulihan permintaan otomotif, kinerja anak usaha di sektor komoditas, program pembelian kembali saham saham hingga Rp8 triliun, serta kebijakan dividen dengan payout ratio 45%-50%.
Baca Juga: ASII Membidik Pertumbuhan Kinerja melalui 3 Bisnis Utama, Tinjau Rekomendasi Sahamnya
Sementara itu demikian, Abida juga mengingatkan risiko dari pelemahan rupiah dan suku bunga tinggi yang dapat menekan daya akumulasi masyarakat. Selain itu, persaingan dari merek kendaraan listrik asal China juga perlu dicermati.
Dari sisi rekomendasi, Abida menyalurkan rating akumulasi untuk saham ASII dengan target harga Rp6.850 per saham.
“Valuasi ASII kini masih menarik dengan price to earnings ratio forward sekitar 7,2 kali, didukung kombinasi pembelian kembali saham, dividen, dan pertumbuhan laba yang solid,” ungkapnya.
Sementara itu, Wafi menilai pelemahan harga saham ASII sepanjang tahun berjalan telah mencerminkan sebagian besar sentimen negatif yang ada.
“Valuasi kini berada di level historis rendah, alhasil menarik untuk akumulasi bertahap dengan horizon jangka panjang,” pungkasnya.
Baca Juga: Astra (ASII) Fokus Dongkrak Return Investor, Menyiapkan Dana Pembelian kembali saham Rp8 Triliun
Tinjau Berita dan Artikel yang lain di Google News
Catatan: pastikan Anda mencatat tanggal cum-dividen dan recording date. Harga saham biasanya menyesuaikan (turun) pada ex-date sebesar nilai dividen. Selalu verifikasi tanggal pembayaran melalui keterbukaan informasi di IDX.

